Ada Cacing Di Perut Badak *

gambar badak

Gambar. Badak Ujung Kulon

Pada tahun 1957 di Bogor pernah dibuka suatu Taman Margasatwa di dalam kompleks Kebun Raya Bogor. Melalui pers dikumandangkan bahwa Taman Margasatwa itu akan menjadi yang terbesar di seluruh Asia Tenggara.

Maka dipindahkanlah ke tempat itu badak dari Ujung Kulon, orang utan dari Kalimantan, burung enggang dan beberapa satwa lain yang dilindungi oleh undang-undang.

Apa hasil yang kita peroleh dari usaha itu? Para ahli patologi hewan mendapat kesempatan membuka perut badak yang ternyata penuh cacing.

Maka dikatakan bahwa badak itu memang mati karena cacing. Kalaupun tidak ditangkap, badak itu akan mati juga karena cacingan di Ujung Kulon.

gambar badak

Gambar. Cacing parasit

Tetapi dari peristiwa promosi Dr. Darwin Karyadi di Fakultas Kedokteran UI saya belajar banyak sekali. Beliau berkata bahwa setiap orang Indonesia termasuk beliau sendiri memelihara cacing di dalam perutnya. Cacing itu dalam keadaan biasa hanya “indekos” saja di dalam perut. Kalau kita dalam keadaan kurang segar, cacing-cacing itu akan menjadi berbahaya bagi kesehatan kita.

Tidak mustahil bahwa di lingkungan aslinya di Ujung Kulon, cacing di dalam perut badak ada dalam keadaan keseimbangan dengan lingkungan, termasuk dengan induk semangnya sendiri.

Segera setelah badak itu dipindahkan ke Bogor tanpa memperhitungkan keadaan lingkungan yang diperlukan, terjadilah tekanan lingkungan yang menyebabkan badak itu tidak sehat.

Maka menjadi berbahayalah semua cacing yang ada di dalam perutnya. Bahwasanya dalam tujuh belas tahun kita mengalami kesalahan yang sama jenisnya, terjadi dalam bidang biologi di Indonesia.

Hal ini juga merupakan petunjuk bahwa belum ada kemajuan dalam pandangan biologis-ekologis di dalam masyarakat selama tujuh belas tahun ini. Di balik semuanya ini kita sekarang ikut keranjingan pandangan ekologis.

Gambar badak

Gambar. Badak di Taman Margasatwa

Oleh karena itu saya sampai pada kesimpulan bahwa ada jurang pengertian terdapat antara para ahli biologi dengan masyarakat. Itu pula sebabnya bahwa mereka tidak sering dimintai pendapat mengenai masalah-masalah pembangunan yang menyangkut biologi. Itu pula sebabnya mengapa boleh dikatakan tak ada lulusan SMA yang berminat untuk memasuki jurusan biologi di perguruan tinggi.

Matinya pesut Mahakam di Ancol kini dapat kita ambil hikmahnya. Peristiwa itu menunjukkan pentingnya peranan seorang ahli biologi bagi pembangunan tanah air kita.

Bukan saja untuk menyelenggarakan taman hiburan, tetapi juga untuk memanfaatkan kekayaan alam kita yang masih di dalam rimba raya. Sebelum rimba raya itu digunduli oleh manusia yang haus akan kayu dan kadang-kadang menamakan dirinya pecinta rimba raya juga.

Saya teringat akan penemu-penemu jagung-unggul di Mexiko, yang mendapatkan bahan-bahan persilangan dari pembentukan jagung-jagung unggul. Mereka terjun sendiri memimpin ekspedisi ke pegunungan yang terjal mencari jenis-jenis jagung asli di daerah tebaran asalnya di seluruh Amerika Tengah.

*Salah satu artikel dalam Buku “Daun-Daun Berserakan” karya Prof. H. Andi Hakim Nasoetion

Reno Ar

Reno Armando merupakan penulis berbagai jurnal nasional maupun internasional.

You may also like...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.