Categories: Geologi

Asal-usul Hobbit Indonesia Akhirnya Terungkap

Studi paling komprehensif baru-baru ini mengenai fosil Homo floresiensis, mengungkapkan bahwa asal-usul hobbit Indonesia dari pulau Flores tersebut bukanlah berevolusi dari Homo erectus seperti yang diyakini selama ini, melainkan dari nenek moyang di Afrika.

Studi The Australian National University (ANU) menemukan bahwa Homo floresiensis, yang disebut “hobbit” karena perawakannya yang kecil itu, kemungkinan besar adalah spesies saudara dari Homo habilis – yang merupakan salah satu spesies manusia paling awal yang ditemukan di Afrika 1,75 juta tahun lalu.

Data dari penelitian tersebut menyimpulkan bahwa tidak ada bukti teori populer yang membuktikan bahwa asal-usul hobbit Indonesia, Homo floresiensis, berevolusi dari Homo erectus yang jauh lebih besar itu.

Homo erectus memang merupakan satu-satunya hominid awal lainnya yang diketahui pernah tinggal di wilayah tersebut, dengan fosilnya yang ditemukan di daratan Jawa, Indonesia.

Pemimpin studi ini, Dr Debbie Argue, dari ANU School of Archeology & Anthropology, menyatakan bahwa hasil ini seharusnya dapat membantu menyudahi perdebatan panjang mengenai asal-usul hobbit Indonesia tersebut, yang diperdebatkan sejak fosil Homo floresiensis itu pertama kali ditemukan.

“Analisis menunjukkan bahwa pada pohon keluarga, Homo floresiensis kemungkinan adalah spesies saudara Homo habilis. Artinya, kedua spesies manusia ini memiliki nenek moyang yang sama,” ungkap Dr Argue.

“Mungkin saja Homo floresiensis berkembang di Afrika lalu bermigrasi, atau nenek moyang yang sama pindah dari Afrika kemudian berkembang menjadi Homo floresiensis di suatu tempat.”

Homo floresiensis diketahui pernah hidup di Flores sampai pada 54.000 tahun yang lalu.

Penelitian ini merupakan hasil dari hibah Dewan Riset Australia pada tahun 2010. Penelitian ini memungkinkan para peneliti untuk mengeksplorasi spesies yang baru ditemukan sesuai dengan pohon evolusi manusia.

Kalau penelitian sebelumnya berfokus pada tengkorak dan rahang bawah, maka penelitian ini menggunakan 133 titik data mulai dari tengkorak, rahang, gigi, lengan, kaki dan bahu.

Dr Argue mengatakan bahwa tidak ada data yang mendukung teori bahwa Homo floresiensis berevolusi dari Homo erectus.

“Kami mencoba melihat apakah Homo floresiensis bisa diturunkan dari Homo erectus,” katanya.

“Kami menemukan bahwa jika Anda mencoba untuk menghubungkan mereka pada pohon keluarga, Anda akan mendapatkan hasil yang sangat tidak mendukung. Semua tes menyatakan tidak sesuai, atau itu bukanlah teori yang tepat.”

Dr Argue menyatakan bahwa hal ini didukung oleh fakta bahwa dalam banyak fitur, seperti struktur rahang, Homo floresiensis lebih primitif daripada Homo erectus.

“Logikanya, akan sulit untuk memahami bagaimana regresi itu terjadi, mengapa rahang Homo erectus malah berevolusi kembali ke kondisi primitif seperti yang kita lihat pada Homo floresiensis?”

Dr Argue mengatakan bahwa analisis tersebut juga dapat mendukung teori Homo floresiensis mungkin telah bercabang lebih awal pada garis waktu, sekitar lebih dari 1,75 juta tahun yang lalu.

“Jika begini kasusnya, Homo floresiensis telah berevolusi bahkan sebelum Homo habilis paling awal, yang akan membuatnya menjadi sangat kuno,” ujarnya.

Profesor Mike Lee dari Flinders University dan South Australian Museum, menggunakan pemodelan statistik untuk menganalisis data.

“Ketika kami melakukan analisis, benar-benar ada dukungan yang jelas untuk hubungan dengan Homo habilis. Homo floresiensis menempati posisi primitif di pohon evolusi manusia,” ungkap Profesor Lee.

“Kita bisa 99 persen yakin Homo floresiensis tidak berhubungan dengan Homo erectus dan hampir 100 persen kemungkinan Homo floresiensis bukanlah Homo sapiens yang malformasi,” kata Profesor Lee.

Sumber :

www.sciencedaily.com

www.theguardian.com

www.cbc.ca

www.phys.org

www.thesun.co.uk

www.aol.com

www.independent.co.uk

www.dailymail.co.uk

www.sciencealert.com

www.sci-news.com

www.archaelogy.org

www.inews.co.uk

www.technews.com

Recent Posts

Strategi diet unik dari spons laut tropis – Sains Terkini

Penelitian yang dilakukan di Universitas Hawaiʻi (UH) di Mānoa School of Ocean and Earth Science and Technology (SOEST) pada spons… Read More

4 days ago

Bakteri aneh mengisyaratkan asal kuno fotosintesis – Sains Terkini

Struktur di dalam bakteri langka mirip dengan yang menggerakkan fotosintesis pada tanaman saat ini, menunjukkan prosesnya lebih tua dari yang… Read More

3 weeks ago

Cahaya baru tentang evolusi cichlid di Afrika – Sains Terkini

Cichlids (Cichlidae) adalah sekelompok ikan kecil sampai sedang yang ada di mana-mana di habitat air tawar di daerah tropis. Mereka… Read More

3 weeks ago

Cara Mengusir Tikus dengan Bahan Alami

Tikus berseliweran di rumah Anda? Bingung bagaimana cara mengusir tikus yang ampuh dan mencegah tikus datang kembali? Jangan khawatir, kali… Read More

1 month ago

10 Cara Mengusir Lalat dan Mencegahnya Datang Kembali

Anda merasa terganggu dengan keberadaan lalat di rumah Anda? Jangan khawatir, kali ini Sains Terkini akan membagikan cara mengusir lalat… Read More

1 month ago

Cara Mengusir Semut di Rumah (100% Ampuh)

Terdapat berbagai macam cara mengusir semut yang bisa kita lakukan di rumah. Sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa keberadaan semut… Read More

4 months ago