Categories: Fisika

Bahaya Drone Terhadap Penerbangan

Baru-baru ini, para peneliti Ohio State University mengukur bahaya drone terhadap penerbangan, sebagai bagian dari studi multi institusi Federal Aviation Administration (FAA) yang berfokus pada sistem udara tak berawak.

Pekan lalu, tim peneliti dari Alliance for System Safety UAS through Research Excellence (ASSURE) merilis sebuah laporan yang menyimpulkan bahwa tabrakan drone dengan pesawat besar berawak dapat menyebabkan kerusakan struktural yang lebih banyak daripada tabrakan burung, dengan berat yang sama untuk dampak kecepatan tertentu.

Untuk mengendalikan burung di areal landasan pacu pesawat terbang, baca artikel berikut : Cara Unik Pengendalian Burung ala Inggris

FAA akan menggunakan hasil penelitian ini untuk membantu mengembangkan persyaratan mitigasi risiko tabrakan dan operasional untuk pesawat tak berawak, drone.

ASSURE melakukan penelitian dengan dua jenis pesawat tak berawak terhadap dua jenis pesawat terbang melalui pemodelan komputer dan uji validasi fisik.

Kiran D’Souza, asisten profesor teknik mesin dan kedirgantaraan di Ohio State, memimpin bagian konsumsi mesin dari penelitian pertama ini.

“Bahkan sistem pesawat tak berawak kecil pun berpotensi menghasilkan kerusakan yang signifikan pada mesin,” ungkap D’Souza.

Berbagai laporan mengenai penerbangan yang cukup dekat antara drone dan pesawat terbang terus meningkat.

FAA mendapatkan lebih dari 100 penampakan dalam satu bulan mengenai drone yang berpotensi menimbulkan risiko pada pesawat terbang, seperti beroperasi terlalu dekat dengan bandara.

FAA memperkirakan bahwa 2,3 juta drone akan dibeli untuk penggunaan rekreasi tahun ini, dan jumlahnya diperkirakan akan terus meningkat di tahun-tahun mendatang.

Berbeda dengan massa lunak dan jaringan burung, drone biasanya terbuat dari bahan yang lebih keras.

Pengujian menunjukkan bahwa komponen paling keras dari drone, seperti motor, baterai dan muatan – dapat menyebabkan kerusakan besar pada bodi dan mesin pesawat.

Dipimpin oleh Gerardo Olivares, direktur National Institute for Aviation Research, Universitas Wichita, tim mengevaluasi potensi dampak drone dengan berat 2,7 – 8 pound terhadap jet transportasi komersial berlorong single dan sebuah jet bisnis.

Mereka memeriksa tabrakan dengan sayap depan, kaca depan, dan stabilisator vertikal dan horizontal.

Kaca depan umumnya mengalami kerusakan paling sedikit dan stabilisator horizontal mengalami kerusakan paling serius.

Tingkat keparahan bahaya drone terhadap penerbangan berkisar dari tidak ada kerusakan hingga kegagalan struktur primer dan penetrasi drone ke dalam badan pesawat terbang.

Seorang ahli dinamika turbin gas, D’Souza dari Ohio State melakukan simulasi komputer untuk mengevaluasi potensi kerusakan dari drone yang memasuki mesin jet bisnis umum berukuran menengah, termasuk kerusakan pada bilah kipas, nacelle dan nosecone.

Simulasi menunjukkan bahwa kerusakan dan risiko terbesar terjadi saat lepas landas, karena kipas angin beroperasi pada kecepatan tertinggi pada fase penerbangan ini.

Lokasi kontak drone pada kipas adalah parameter kunci, dengan kerusakan paling banyak yaitu terjadi benturan di dekat ujung bilah.

Menurut D’Souza, langkah selanjutnya adalah pengembangan model mesin jet komersial yang representatif untuk simulasi konsumsi, serta pengujian skala penuh untuk memverifikasi dan memvalidasi simulasi.

Tim ini merencanakan penelitian tambahan mengenai konsumsi mesin, bekerja sama dengan produsen mesin, serta studi tabrakan udara terhadap helikopter dan pesawat terbang umum.

Para peneliti menyimpulkan bahwa produsen pesawat terbang harus mengadopsi kemampuan “mendeteksi dan menghindari” atau “geo-fencing” untuk mengurangi bahaya drone terhadap penerbangan dan kemungkinan benturan dengan pesawat terbang lainnya.

Sumber :

news.osu.edu

www.bbc.com

www.forbes.com

www.dronenewz.info

www.sciencedaily.com

Recent Posts

Obat Diabetes Ini Dapat Membalikkan Gagal Jantung

Para peneliti baru-baru ini menunjukkan bahwa obat diabetes empagliflozin dapat mengobati dan membalikkan perkembangan gagal jantung pada model hewan non-diabetes.… Read More

21 April 2019 19:30

Cara Kura-Kura Raksasa Menghadapi Perubahan Iklim

Kura-kura raksasa Galapagos, terkadang disebut Penjaga Kebun Galapagos, adalah makhluk kebiasaan. Di musim kemarau yang dingin, dataran tinggi lereng gunung… Read More

20 April 2019 19:36

Perkembangan Teknologi Pemungutan Suara di AS

Di Amerika Serikat, teknologi pemungutan suara berkembang dari awalnya menggunakan kertas suara yang dihitung manual, hingga menggunakan mesin pemilihan elektronik… Read More

19 April 2019 14:56

Perbedaan Quick Count, Exit Poll, dan Real Count

Pemilihan umum sudah selesai, muncul beberapa istilah yang sering kita dengar, seperti Quick Count, Exit Poll dan Real Count. Apa… Read More

18 April 2019 11:07

Cassini NASA Mengungkapkan Kejutan Danau Titan

Dalam perjalanan terakhir bulan terbesar Saturnus pada tahun 2017, pesawat ruang angkasa NASA Cassini mengumpulkan data radar yang mengungkapkan bahwa… Read More

17 April 2019 08:12

Benarkah Kemampuan Kognitif Dipengaruhi Gen?

Perbedaan individu dalam kemampuan kognitif pada anak-anak dan remaja sebagian tercermin dalam variasi dalam urutan DNA mereka, menurut sebuah penelitian… Read More

16 April 2019 20:42