Categories: Biologi

Cegah Kanker Serviks, Kemenkes Canangkan Vaksin HPV

Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013, kasus kanker di Indonesia terjadi sebanyak lebih kurang 330.000 orang. Dan kasus terbesar adalah kanker serviks atau kanker leher rahim.

Menurut data Information Centre on HPV and Cervical Cancer, WHO, terdapat sekitar 2 dari 10.000 wanita di Indonesia menderita kanker serviks. Dan diperkirakan 26 wanita meninggal setiap harinya karena kanker serviks.

Penyebab kanker serviks dan cara mengatasinya

Kanker serviks sebagian besar disebabkan oleh virus yang ditularkan melalui hubungan seksual yaitu Human Papilloma Virus (HPV).

Sejak pertama kali mendapat izin edar pada tahun 2006, lebih dari 200 juta dosis vaksin HPV telah digunakan di seluruh dunia. Bahkan, WHO merekomendasikan vaksin HPV masuk dalam program imunisasi nasional.

Beruntung pemerintah, melalui Kementerian Kesehatan RI, telah mencanangkan pemberian vaksin untuk mencegah kanker serviks. Vaksin diberikan melalui imunisasi HPV kepada anak-anak, sebagai anti kanker serviks.

Namun program ini masih banyak menuai kontroversi. Berikut kita ulas mengenai program ini.

Baca juga : Telah Disetujui, Obat Biosimilar untuk Kanker

Imunisasi HPV mampu mencegah kanker serviks 100%

Direktur Surveillance dan Karantina Kesehatan Kementerian Kesehatan, dr. Elizabeth Jane Supardi, mengatakan bahwa Imunisasi HPV mampu mencegah kanker serviks100%.

Vaksin HPV akan merangsang tubuh membentuk antibodi yang di kemudian hari akan melawan virus jika tubuh terpapar, dan mencegah virus menginfeksi sel.

Dr. Jane menambahkan, usia anak perempuan yang paling optimal untuk program imunisasi kanker serviks adalah 9 – 12 tahun. Dengan syarat, anak perempuan ini belum berhubungan seks. Direncanakan, imunisasi ini akan diberikan kepada murid kelas 5 dan 6 SD.

Prof. Dr. Samsuridjal Djauzi, Sp.PD, Ikatan Dokter Indonesia, merekomendasikan vaksinasi HPV sejak anak berusia 10 tahun.

Senada dengan itu, diungkapkan juga oleh Ketua Umum Indonesian Working Group on HPV, Prof. DR. dr. Andrijono, SpOG (K), yang menyatakan bahwa pemberian vaksin sangat efektif pada anak SD mulai dari usia 9 atau 10 tahun, dan vaksin HPV nyaris tidak ada efek samping.

Pemberian vaksin kanker serviks direkomendasikan sebanyak tiga dosis dalam tiga kali pemakaian.

Vaksin pertama diberikan pada masa remaja yaitu 11-12 tahun, kemudian vaksin kedua diberikan 1 atau 2 bulan setelah vaksin pertama. Lalu, vaksin ketiga diberikan 6 bulan setelah vaksin pertama.

Mengapa bukan untuk perempuan yang sudah aktif berhubungan seksual?

Hal inilah salah satu hal yang menimbulkan kontroversi. Namun dr. Jane menegaskan, kalau diberikan ke perempuan yang lebih tua, efektivitas semakin turun karena kemungkinan melakukan hubungan seks semakin tinggi. Potensi terjangkit virus HPV justru lebih besar. Sementara harga vaksin ini cukup mahal.

Agak berbeda, berikut perbandingan usia anak perempuan yang direkomendasikan untuk menerima vaksin HPV di beberapa negara:

  • Indonesia : 9 – 12 tahun
  • Amerika Serikat : 11 – 12 tahun
  • Inggris : 12 -13 tahun
  • Mayoritas negara-negara Eropa Barat : 12 tahun.

Benarkah Vaksin HPV menyebabkan menopause dini atau kemandulan?

Kontroversi lain yang muncul adalah diberitakan bahwa vaksin HPV yang diberikan kepada anak dapat menyebabkan menopause dini (primary ovarian failure), yaitu sebelum usia 40 tahun.

Namun hal ini juga dibantah dengan tegas oleh dr. Jane dan Oscar Primadi, Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat.

Berdasarkan data yang dikumpulkan dari negara-negara yang sudah menggunakan vaksin HPV selama 14 tahun, tidak ada menopause dini karena vaksin tersebut.

Badan  WHO yaitu Global Advisory Committee on Vaccine Safety (GACVS) mengumpulkan data post marketing surveilans dari Amerika Serikat, Australia, Jepang dan dari manufaktur.

Data dikumpulkan dari tahun 2006, sejak pertama kali vaksin HPV diluncurkan sampai tahun 2014.

Pada tanggal 12 Maret 2014, GACVS menyatakan tidak menemukan isu keamanan yang dapat merubah rekomendasi vaksinasi HPV.

Kapan dimulai program imunisasi HPV ini?

Program imunisasi HPV untuk anak SD ini telah dimulai di dua kota yang dianggap paling siap, yaitu DKI Jakarta dan DI Yogyakarta.

Apabila berhasil, maka program imunisasi HPV ini dapat diusulkan ke DPR sehingga menjadi program nasional.

Persetujuan DPR diperlukan karena memang harga vaksin ini tergolong mahal.

Dan persetujuan DPR diperoleh kalau memang sudah terbukti secara ilmiah vaksin ini efektif.

Itulah mengapa untuk membuktikan efektivitas vaksin HPV ini harus di daerah yang siap dulu, seperti DKI dan Jogja.

Namun Surabaya dan beberapa kabupaten di Bali sejak dua hingga tiga tahun yang lalu sudah menggunakan APBD untuk vaksinasi HPV gratis.

Berapa harga Vaksin HPV?

Saat ini tersedia tiga jenis vaksin untuk mencegah infeksi HPV, yaitu Gardasil, Gardasil 9 dan Cervarix.

Harga vaksin HPV sebenarnya tergolong mahal, yaitu sekitar Rp700.000 per dosis.

Namun hal ini jauh lebih kecil dibandingkan biaya perawatan kanker serviks di rumah sakit.

Seperti yang diungkapkan oleh Ketua Umum Himpunan Onkologi ‎Ginekologi Indonesia (HOGI), Andrijono, harga di luar yang disediakan pemerintah itu sangat mahal, bisa mencapai 800 ribu sampai 1 juta per dosis.

Sedangkan yang diberikan pemerintah itu gratis. Maka dari itu, jangan ragukan lagi vaksin ini.

Untuk program uji coba di DKI Jakarta dan Yogyakarta, pemerintah pusat bekerja sama dengan GAVI (Global Alliances fro Vaccine and Immunization).

GAVI adalah kemitraan yang berkomitmen mendistribusikan penggunaan vaksin untuk meningkatkan kesehatan anak di negara-negara berkembang dalam bentuk hibah.

Organisasi ini didanai oleh Yayasan Bill & Melinda Gates, sejumlah negara Eropa Barat serta beberapa organisasi amal lainnya.

GAVI memang hanya akan membantu di awal saja. Nanti juga akan ada vaksin lain, yaitu untuk pneumonia dan diare.

Karena harganya yang mahal, maka fokus Kemenkes adalah memastikan agar vaksin-vaksin gratis tersebut tidak disalahgunakan.

Berita lainnya menyebutkan bahwa vaksin ini tidak laku di AS dan Inggris karena mahal.

Padahal di negara-negara Eropa Barat, vaksinasi HPV dibiayai oleh badan atau kementerian kesehatan negara.

Dan sama dengan di Indonesia, Australia dan Kanada juga menyediakan vaksinasi HPV di sekolah.

Negara-negara berkembang di Afrika seperti Ghana, Kenya, Madagaskar, Malawi, Sierra Leone, serta negara-negara di Asia Tenggara seperti Laos dan Indonesia mendapat bantuan dari GAVI untuk vaksinasi HPV.

Sumber :

www.depkes.go.id

www.bbc.com

www.tempo.co

www.kompas.com

www.alodokter.com

www.detik.com

www.health.liputan6.com

www.femina.co.id

www.okezone.com

www.suara.com

www.cnnindonesia.com

www.koran-sindo.com

www.gatra.com

www.republika.co.id

www.mediaindonesia.com

www.viva.co.id

www.vemale.com

Recent Posts

Cara Mengusir Tikus dengan Bahan Alami

Tikus berseliweran di rumah Anda? Bingung bagaimana cara mengusir tikus yang ampuh dan mencegah tikus datang kembali? Jangan khawatir, kali… Read More

1 week ago

10 Cara Mengusir Lalat dan Mencegahnya Datang Kembali

Anda merasa terganggu dengan keberadaan lalat di rumah Anda? Jangan khawatir, kali ini Sains Terkini akan membagikan cara mengusir lalat… Read More

1 week ago

Cara Mengusir Semut di Rumah (100% Ampuh)

Terdapat berbagai macam cara mengusir semut yang bisa kita lakukan di rumah. Sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa keberadaan semut… Read More

2 months ago

Cegah Tekanan Darah Tinggi, Hindari Asap Rokok!

Jika ruangan atau mobil berasap, menjauhlah sampai bersih. Itulah pesan utama penelitian yang dipresentasikan hari ini pada EuroHeartCare 2019, sebuah… Read More

2 months ago

Model Rantai Markov untuk Pencarian Pesawat MH370

Upaya terbaru menggabungkan data satelit dengan model matematika rantai Markov untuk mencari pesawat MH370, dapat memberikan kemajuan dalam upaya mencari… Read More

3 months ago

24 Obat Sakit Gigi Tradisional Praktis

Apakah Anda pernah mengalami sakit gigi? Atau mungkin Anda sekarang sedang sakit gigi? Tenang, beberapa obat sakit gigi berikut dikenal… Read More

3 months ago