Dampak Perubahan Iklim Terhadap Taman Nasional

Perubahan iklim (climate change) yang disebabkan oleh manusia telah mengekspos taman nasional AS ke kondisi yang lebih panas dan lebih kering daripada bagian lain negara ini.

Hasil ini merupakan kesimpulan dari sebuah studi baru UC Berkeley dan University of Wisconsin-Madison.

Penelitian ini mengkuantifikasi untuk pertama kalinya besarnya perubahan iklim pada 417 taman dalam keseluruhan sistem.

Tanpa tindakan untuk membatasi emisi gas rumah kaca, banyak mamalia kecil dan tanaman akan menuju kepunahan pada akhir abad ini, studi menunjukkan.

Baca juga : Hutan Tua Melindungi Burung Dalam Pemanasan Iklim

Dampak perubahan iklim lebih besar terjadi pada Taman Nasional

Analisis menunjukkan bahwa selama abad yang lalu, suhu rata-rata di taman nasional meningkat dua kali lipat dibandingkan dengan bagian lain negara.

Analisis juga menunjukkan bahwa curah hujan tahunan menurun lebih banyak di taman nasional daripada di wilayah lain negara ini.

Pada tingkat emisi saat ini, tim memproyeksikan bahwa suhu di taman nasional yang paling terbuka dapat melonjak sebanyak 9oC atau 16oF pada tahun 2100.

Tingkat perubahan ini lebih cepat daripada kecepatan migrasi mamalia kecil dan menyebarnya tanaman ke iklim yang lebih ramah.

“Perubahan iklim yang disebabkan manusia telah meningkatkan areal yang terbakar melalui kebakaran hutan di seluruh bagian barat AS, mencairnya gletser di Taman Nasional Glacier Bay dan mengubah vegetasi ke ketinggian yang lebih tinggi di Taman Nasional Yosemite,” ungkap Patrick Gonzalez.

Patrick Gonzalez adalah asisten profesor di Departemen Ilmu Lingkungan, Kebijakan, dan Manajemen di UC Berkeley. 

Beliau merupakan penulis utama untuk laporan Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) ini, yang merupakan ringkasan dari pengetahuan ilmiah terbaru tentang perubahan iklim.

Baca juga : Kerusakan Hutan Akibat Deforestasi dan Perubahan Iklim

Penyebab perubahan iklim utama adalah manusia

“Kabar baiknya adalah, jika kita mengurangi emisi dari mobil, pembangkit listrik, penggundulan hutan, dan kegiatan manusia lainnya, serta memenuhi tujuan Kesepakatan Paris, kita dapat menekan kenaikan suhu di taman nasional hingga sepertiga dari apa yang akan terjadi,” ungkap Gonzalez.

“Lokasi dari ekosistem unik inilah yang membuat mereka terekspos secara khusus terhadap perubahan iklim,” lanjutnya.

Banyak taman nasional ditemukan di padang pasir, pegunungan tinggi atau di wilayah Arktik Alaska, yakni iklim yang diketahui paling terpukul oleh pemanasan global.

“Taman nasional bukanlah contoh acak – mereka adalah tempat yang luar biasa dan banyak yang terjadi di lingkungan yang ekstrim,” jelas Gonzalez.

“Banyak berada di tempat yang inheren lebih rentan terkena perubahan iklim yang disebabkan manusia.”

Analisis yang mencakup seluruh 50 negara bagian AS, Distrik Columbia dan empat wilayah di Karibia dan Pasifik ini diterbitkan pada 24 September dalam jurnal Environmental Research Letters.

Baca juga : Degradasi Kawasan Lindung Dunia oleh Aktivitas Manusia

Mitigasi dan Adaptasi

Stasiun cuaca yang tersebar di seluruh AS telah mengumpulkan data bulanan tentang suhu dan curah hujan sejak tahun 1895.

Dengan menggunakan data ini, para peneliti iklim telah membuat peta suhu rata-rata tahunan dan total curah hujan pada titik-titik sekitar 800 meter di sebagian besar wilayah Amerika Serikat.

Dalam studi ini, tim menggunakan peta ini untuk menghitung tren suhu historis dan curah hujan di taman dan di seluruh AS secara keseluruhan.

perubahan iklim

Mereka menemukan bahwa suhu di taman nasional meningkat sedikit di atas 1 derajat Celcius dari tahun 1895 hingga 2010. Sekitar dua kali lipat dari pemanasan yang dialami oleh bagian lain negara itu.

Curah hujan tahunan total menurun lebih dari 12 persen dari lahan taman nasional, dibandingkan dengan 3 persen dari lahan lain di Amerika Serikat.

Alaska dan taman nasionalnya menunjukkan peningkatan suhu paling dramatis. Sementara curah hujan turun paling banyak di Hawaii.

Empat skenario perubahan iklim

Tim memetakan proyeksi perubahan suhu dan curah hujan di masa mendatang untuk model iklim yang mewakili masing-masing dari empat skenario perubahan iklim yang dikembangkan oleh IPCC.

Keempat “alur cerita masa depan” seperti yang disebut oleh para ilmuwan tersebut, termasuk skenario di mana tidak ada tindakan yang diambil untuk mengurangi emisi, yang konsisten dengan Perjanjian Paris dan dua yang bersifat menengah (intermediet).

Di bawah skenario perubahan iklim yang paling ekstrim, suhu rata-rata semua taman nasional bersama-sama diproyeksikan meningkat antara 5 dan 7 derajat Celcius.

Berpegang pada Perjanjian Paris dapat membatasi kenaikan ini menjadi antara 1 dan 3 derajat Celcius.

Di bawah kedua skenario tersebut, suhu bisa meningkat paling banyak di Alaska dan taman nasionalnya. Sementara curah hujan bisa turun paling banyak di Kepulauan Virgin dan AS barat daya.

Peta perubahan iklim masa depan

Untuk menganalisis proyeksi masa depan, tim juga “menurunkan (downscaled)” model iklim, membuat peta yang lebih terperinci tentang tren iklim masa depan di taman-taman.

Sementara model iklim memiliki resolusi kasar sekitar 100 – 400 kilometer, data downscaled memiliki resolusi 100 – 800 meter di sebagian besar negara.

Peta-peta ini dapat membantu pegawai layanan taman untuk merencanakan masa depan menghadapi perubahan iklim terhadap spesies yang terancam punah dan sumber daya taman lainnya. Dilakukan dengan mengembangkan langkah-langkah untuk melindungi terhadap kebakaran hutan dan mengendalikan spesies invasif. 

Baca juga : Ekspansi Perkebunan Kelapa Sawit Mengancam Primata

“Layanan taman nasional sudah mengintegrasikan informasi perubahan iklim ini ke dalam perencanaan dan pengelolaan sumber daya mereka,” jelas Fuyao Wang.

Fuyao Wang merupakan rekan peneliti di University of Wisconsin-Madison.

“Penting untuk dicatat bahwa bahkan jika kita benar-benar melakukan mitigasi gas rumah kaca yang kuat, sistem taman nasional masih memungkinkan terjadi perubahan suhu 2 derajat,” ujar John Williams.

John Williams adalah profesor geografi di University of Wisconsin-Madison.

“Pada titik ini, kemungkinan bahwa gletser di Taman Nasional Glacier akhirnya akan hilang. Lalu apakah masih disebut Taman Nasional Glacier jika tidak memiliki gletser lagi?”

“Jadi saya pikir ini menambah bobot pada pentingnya mengurangi tingkat perubahan iklim di masa depan. Selain itu juga memperluas misi layanan Taman Nasional untuk beradaptasi, sekaligus mendidik kita semua tentang perubahan ini.”

Baca juga : Solusi Pemanasan Global adalah Tanah (?)

Sumber :

http://iopscience.iop.org

You may also like...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.