Ekspansi Perkebunan Kelapa Sawit Mengancam Primata

Ekspansi perkebunan kelapa sawit di masa mendatang dapat berdampak dramatis pada primata Afrika.

Hasil ini menurut temuan dari studi baru yang dipimpin oleh Pusat Penelitian Gabungan, layanan ilmu pengetahuan dan komisi sains Eropa.

Studi ini telah dipublikasikan dalam Proceedings of National Academy of Sciences (PNAS).

perkebunan kelapa sawit

Para ilmuwan hanya menemukan beberapa wilayah kompromi kecil di Afrika dengan kesesuaian yang tinggi untuk budidaya kelapa sawit dan sekaligus berdampak potensial yang rendah terhadap spesies primata yang hidup di sana.

Daerah-daerah ini hanya sekitar 0,13 juta hektar (Mha), artinya kurang dari 0,005% dari total daratan di benua Afrika.

Bahkan ketika mempertimbangkan semua area dengan setidaknya memiliki kesesuaian minimum untuk menumbuhkan tanaman tersebut, hanya sekitar 3,3 Mha lahan yang tersedia untuk memproduksi minyak tanpa membahayakan populasi primata.

Jumlah ini hanya 6,2% dari 53Mha yang diperlukan untuk mengatasi permintaan minyak sawit yang meningkat pada tahun 2050.

Permintaan minyak kelapa sawit yang terus meningkat. Para pelaku industri mencari kemungkinan baru untuk ekspansi di luar Asia Tenggara dan Amerika Selatan.

Studi ini menunjukkan bagaimana akan sangat menantangnya untuk merekonsiliasi target konservasi terhadap konversi lahan menjadi perkebunan kelapa sawit di masa mendatang.

Baca juga : Degradasi Kawasan Lindung Dunia oleh Aktivitas Manusia

perkebunan kelapa sawit

Ekspansi perkebunan kelapa sawit seiring pertumbuhan populasi dunia

Manfaat kelapa sawit telah dikenal luas dalam kehidupan sehari-hari. Minyak kelapa sawit dapat ditemukan pada sekitar setengah dari semua produk yang dikemas di supermarket, mulai dari makanan hingga produk rias dan pembersih. Selain itu, manfaat kelapa sawit juga digunakan dalam bahan bakar (biofuel).

Produksi kelapa sawit per tahun terus meningkat. Produksi ini diharapkan akan terus meningkat karena populasi dunia terus tumbuh. Permintaan terhadap produk ini terus meningkat sehingga prospek perkebunan kelapa sawit bagi dunia industri cukup menjanjikan.

Daerah penghasil kelapa sawit terbesar adalah Asia Tenggara, yakni wilayah dimana kelapa sawit berasal. Pada tingkat lebih rendah kelapa sawit tumbuh di Amerika Selatan dan Amerika Tengah.

Afrika dianggap sebagai tujuan yang paling mungkin untuk perkebunan baru. Hal ini karena ekosistem tropis dataran rendahnya yang melimpah dan sangat cocok untuk perkebunan kelapa sawit.

Pelajaran yang diperoleh dari dampak industri perkebunan kelapa sawit terhadap satwa liar di Asia Tenggara mendorong tim peneliti internasional, dari JRC, CIRAD, Universitas Stellenbosch, Universitas Liverpool John Moores dan ETH Zurich, untuk menghasilkan penilaian yang lebih luas dari efek yang diharapkan dari ekspansi perkebunan kelapa sawit pada keragaman primata Afrika, menyoroti tantangan yang ada di depan.

Baca juga : Jumlah Orangutan di Kalimantan Berkurang Lebih Dari 100.000

Keanekaragaman primata: Indikator yang baik untuk kesehatan ekosistem

Para peneliti memilih untuk fokus pada primata karena beberapa alasan. Yang paling jelas adalah bahwa primata merupakan prioritas dalam konservasi.

Populasi berbagai spesies primata sudah menurun tajam. Hal ini karena sebagian besar habitat alami mereka dieksploitasi untuk pertanian, penebangan dan penambangan.

Diketahui, sebanyak 37% spesies primata di daratan Afrika dan 87% spesies di Madagaskar telah terancam punah.

“Primata menawarkan kepada kita pandangan yang mendetail tentang kesehatan ekosistem. Hal ini karena mereka memainkan peran penting dalam penyebaran benih dan mempertahankan komposisi komunitas hutan,” jelas Giovanni Strona, penulis utama studi ini.

“Keragaman primata berkorelasi dengan keragaman kelompok tumbuhan dan hewan lainnya. Hal ini menyiratkan bahwa dampak potensial ekspansi perkebunan kelapa sawit di masa depan yang kita modelkan untuk primata dapat meluas ke keanekaragaman hayati secara umum.”

“Rentang rumah sebagian besar spesies primata Afrika relatif sudah dikenal. Hal ini memungkinkan kita untuk percaya diri menggunakannya dalam analisis skala besar,” lanjutnya.

Mengurangi bahaya ekspansi perkebunan kelapa sawit di masa depan

Peneliti membuat dua buah peta dan kemudian membandingkannya. Satu pada kerentanan primata dan satu lainnya tentang kesesuaian untuk budidaya kelapa sawit.

Peta-peta ini menunjukkan kemiripan yang mencolok di seluruh sub-Sahara Afrika. Wilayah-wilayah dengan kerentanan primata tinggi dan kesesuaian kelapa sawit tinggi yang saling tumpang tindih di wilayah khatulistiwa dan hutan di Afrika Barat dan Tengah.

“Beberapa pengungkit untuk keberhasilan konservasi keanekaragaman hayati Afrika memang ada, terutama berdasarkan pada strategi mitigasi yang realistis,” ujar Ghislain Vieilledent, rekan penulis studi tersebut.

Salah satu strategi tersebut adalah dengan mengidentifikasi lintasan alternatif untuk ekspansi pertanian, menggunakan kriteria ‘pintar’ dan meminimalkan hilangnya habitat primata.

“Strategi penting lainnya adalah dengan meningkatkan hasil melalui penggunaan benih berkualitas tinggi dan teknologi pemuliaan tanaman yang lebih baik,” lanjutnya.

Empat skenario ekspansi perkebunan kelapa sawit

Mengakui bahwa pengaplikasian dari kriteria tersebut dapat menjadi masalah, peneliti membandingkan 4 skenario ekspansi perkebunan kelapa sawit:

  1. Dua skenario yang digerakkan oleh pendapatan, berdasarkan kesesuaian lahan atau aksesibilitas;
  2. Dua skenario yang digerakkan oleh konservasi, berdasarkan meminimalkan emisi karbondioksida atau daerah konversi pertama dari kerentanan primata rendah.

Skenario kesesuaian lahan menyebabkan kerugian kumulatif tertinggi terhadap habitat primata.

Dalam skenario kerentanan primata, jumlah spesies primata secara signifikan dipengaruhi oleh ekspansi kelapa sawit dapat dipertahankan relatif rendah.

Namun demikian, bahkan dalam skenario ‘optimal’ ini, lebih dari 5 spesies akan kehilangan 1.000 hektar rentang lahan untuk setiap 1.000 ha konversi lahan.

Baca juga : Kerusakan Hutan Akibat Deforestasi dan Perubahan Iklim

Peningkatan permintaan minyak sawit untuk biodiesel akan semakin meningkatkan permintaan untuk konversi lahan, menyoroti pentingnya kebijakan emisi transportasi di masa depan.

Inisiatif kebijakan nasional dan internasional, bersama skema sukarela seperti Round Table on Sustainable Palm Oil (RSPO), juga memiliki potensi untuk mengurangi deforestasi skala besar.

Untuk mengatasi sumber masalah, kebijakan pemerintah dan inisiatif pengecer dapat membantu memodifikasi pola konsumsi dan mengurangi peningkatan permintaan global di masa depan.

Namun, ini membutuhkan tindakan tambahan, di antaranya meningkatkan kesadaran konsumen tentang konsekuensi lingkungan dari gaya hidup mereka.

“Sudah ada momentum untuk perubahan, dengan banyak orang di seluruh dunia mulai menyadari betapa pilihan sehari-hari mereka dapat memiliki dampak yang signifikan terhadap kerentanan ekosistem,” Giovanni menyimpulkan.

“Kami berharap temuan kami dapat mewakili langkah penting lainnya dalam arahan konstruktif ini.”

Baca juga : Masalah dalam Pengelolaan dan Pelestarian Lingkungan Hidup

Sumber : 

www.pnas.org

You may also like...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.