Inilah Fakta Black Hole Terbaru dan Gambarnya

Fakta black hole

Credit: X-ray: NASA/CXC/Penn State/B.Luo et al.

Fakta black hole terbaru diungkapkan oleh NASA melalui Chandra X-ray Observatory.

NASA merilis sebuah gambar terbaik yang dapat mengidentifikasi keberadaan black hole.

Tidak hanya itu, gambar ini juga dapat mengungkapkan berbagai hal baru mengenai perkembangan sebuah black hole.

Gambar ini dirilis pada pertemuan ke-229 American Astronomical Society (AAS),  5 Januari 2017 di Grapevine, Texas.

Sebuah hasil menakjubkan dari pengamatan Chandra X-ray Observatory selama 7 juta detik atau 11,5 minggu.

Sebagaimana yang kita ketahui bahwa Chandra X-ray Observatory ini telah diluncurkan sejak tahun 1999.

Chandra Deep Field South

Gambar ini disebut dengan Chandra Deep Field South. Wilayah tengah merupakan wilayah konsentrasi black hole supermasif yang paling tinggi.

Sekitar 70% dari benda-benda yang tertangkap pada gambar tersebut adalah black hole supermasif. Massanya berkisar antara 100 ribu hingga 10 miliar kali massa matahari.

Gambar Chandra Deep Field South itu menunjukkan adanya 1.008 sumber yang memancarkan sinar-X dengan energi antara 500 dan 8.000 elektron volt (0,5-8 keV).

Bagaimana cara kerja untuk mengidentifikasi fakta black hole itu?

Cara kerjanya adalah materi atau gas yang jatuh ke arah black hole akan menjadi jauh lebih panas saat mendekati horizonnya, lalu memendarkan cahaya terang sinar-X.

Neil Brandt, pimpinan tim, dari Pennsylvania State University, yang memperkenalkan gambar dan teknik itu, dianugerahi penghargaan Rossi Prize.

Rossi Prize adalah sebuah penghargaan tahunan yang diberikan atas kontribusi penting dalam bidang astronomi energi tingkat tinggi.

Dalam melakukan penelitian ini, tim menggabungkan data Chandra X-ray Observatory dengan data dari Hubble Space Telescope atas petakan yang sama di langit.

Mereka mempelajari emisi sinar-X lebih dari 2.000 galaksi yang diidentifikasi oleh Hubble dan berjarak sekitar 12 dan 13 miliar tahun cahaya dari bumi.

Hal menarik mengenai galaksi dan bintang-bintang dapat dibaca pada link berikut Sebuah Jembatan Dari Bintang Bintang Menghubungkan Dua Galaksi Kerdil.

Sebagian besar galaksi ini tidak menghasilkan sinar-X yang cukup tinggi sehingga Chandra tidak dapat mendeteksinya.

Perlu diketahui bahwa Chandra hanya mampu menangkap satu foton sinar-X dalam setiap 10 hari.

Time-lapse gambar animasi di bawah ini terbuat dari 4 juta detik data. Dan setiap titik berkelip-kelip itu sebenarnya adalah black hole supermasif. Sementara titik diam itu adalah galaksi dengan bintang yang memancarkan sinar-X.

Fakta Black Hole

Karena sulitnya mendeteksi sinar ini, maka digunakan beberapa teleskop ruang angkasa, termasuk Hubble, Spitzer, dan Herschel, bersama dengan teleskop Keck dan Very Large Telescope di Bumi, secara bersama-sama mengamati bidang yang sama.

Perlu diketahui bahwa Chandra hanya mampu menangkap gambar sekitar seribu sumber sinar-X. Padahal sebenarnya ada puluhan ribu galaksi di bidang yang sama itu. Kekurangan inilah yang dapat ditutupi dengan bantuan teleskop lainnya.

Dengan demikian, sangat mungkin untuk memetakan hampir setiap sumber sinar-X dan gelombang lain seperti inframerah, radio, atau cahaya tampak.

Potong dan tumpuk

Vito bersama rekannya memotong daerah Chandra Deep Field South sekitar 2.000 galaksi jauh (dari alam semesta berusia kurang dari 1,8 miliar tahun) yang tidak terdeteksi di sinar-X.

Lalu mereka menumpuk potongan itu, dan menggabungkannya ke dalam satu gambar sinar-X, yang setara dengan lebih dari 30 tahun waktu paparan emisi sinar-X dari sebuah galaksi pada awal alam semesta.

Fakta Black Hole

Titik terang studi fakta black hole

Sangat sulit untuk mendeteksi black hole di alam semesta, karena begitu jauh dan hanya menghasilkan radiasi jika secara aktif menarik materi, kata anggota tim Bin Luo dari Nanjing University di Cina.

“Namun melalui observasi Chandra, kita dapat menemukan dan mempelajari sejumlah besar black hole.

Gambar tersebut memang memungkinkan para ilmuwan untuk mengeksplorasi hal-hal terkait bagaimana black hole supermasif itu berkembang pada sekitar satu hingga dua miliar tahun setelah peristiwa Big Bang.

Berdasarkan data ini, para peneliti dapat menunjukkan bahwa black hole di alam semesta pada awal kemunculannya disebabkan oleh adanya semburan, bukan melalui proses akumulasi yang lambat dari suatu materi.

Para ilmuwan juga telah menemukan petunjuk bahwa benih awal black hole supermasif itu bermassa sekitar 10.000 sampai 100.000 kali dari massa matahari, bukan dari bintang yang bermassa 100 kali massa matahari.

Ini menjawab misteri penting dalam astrofisika, mengenai bagaimana benda-benda ini dapat tumbuh begitu cepat mencapai massa sekitar satu miliar kali matahari pada masa awal alam semesta.

“Dengan sebuah gambar yang menakjubkan ini, kita dapat mempelajari awal mula terbentuknya black hole di alam semesta dan melihat bagaimana black hole itu berubah selama miliaran tahun,” ungkap Brandt.

Senada dengan itu, anggota tim Fabio Vito, yang juga dari Pennsylvania State University menyatakan bahwa, “Kami sedang mempelajari masa-masa ketika black hole berada pada fase penting dari pertumbuhannya.”

Fakta menarik ditemukan

Ternyata black hole tidak mengalami pertumbuhan sepanjang waktu. Sebaliknya, black hole mengalami periode diam yang panjang, lalu diselingi dengan ledakan pertumbuhan yang singkat.

Sebagaimana yang kita ketahui, black hole dengan massa satu miliar massa matahari hanya muncul setelah satu miliar tahun dari peristiwa Big Bang.

Secara teori, sulit untuk melahirkan sebuah black hole yang masif dalam waktu yang singkat.

Jadi jika black hole itu tidak berkembang terus menerus sejak awal kemunculannya, maka bisa jadi black hole bukanlah berawal dari objek bermassa bintang.

Keyakinan lama kita adalah black hole supermasif tumbuh pada tingkat yang sama seperti bintang di galaksi. Namun kita menemukan kesulitan mengenai hubungan antara black hole dan pertumbuhan galaksi.

Dan sekarang, Guang Yang (yang juga anggota tim dari Pennsylvania State University) bersama rekan-rekannya menunjukkan bahwa hubungan pertumbuhan ini tampaknya hanyalah sebuah efek sekunder.

Sebaliknya, tingkat pertumbuhan black hole tampaknya lebih berkaitan erat dengan total massa bintang daripada dengan jumlah bintang-bintang baru yang terbentuk.

Dengan kata lain, galaksi yang lebih besar akan lebih efisien “memberi makan” black hole pusat galaksinya. Meskipun masih terdapat perdebatan mengenai hal ini.

Masih banyak hal yang belum terjawab dari misteri black hole.

Namun setidaknya untuk saat ini, para astronom dapat mulai memperdalam kajiannya melalui Chandra Deep Field South.

Sumber :

www.nasa.gov

www.skyandtelescope.com

www.thedatapost.com

www.sciencealert.com

www.earthsky.org

www.time.com

www.ibtimes.co.uk

www.galaxymonitor.com

www.astronomy.com

www.iflscience.com

www.scitechdaily.com

www.space.com

www.dailygalaxy.com

You may also like...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.