Haramkah Budidaya Monokultur?

Budidaya monokultur atau pola pertanaman tunggal telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia modern.

Praktik budidaya ini semakin meluas sejak paruh kedua abad ke-20, yang menjadi penciri pertanian intensif dan pertanian industrial.  

budidaya monokultur

Dahulu, manusia makan, bertempat tinggal, dan menutupi jasadnya dengan mengekstraksi hutan alam. Hutan alami dengan segala sumberdayanya mampu memenuhi kebutuhan makhluk tuhan yang satu ini.

Pada waktunya, kebutuhan manusia semakin meningkat. Manusia perlu menanam untuk memanen.

Hutan tanaman dibuat untuk memenuhi kebutuhan manusia akan kertas. Satu jenis tumbuhan ditanam pada sekian luasan (budidaya monokultur), sehingga membatasi hak tumbuhan lain untuk hidup.

Efeknya monyet dipaksa makan kayu akasia. Celakanya, monyet malah dituduh sebagai biang masalah. Oleh manusia, monyet diklaim sebagai hama!

Baca juga : Pengendalian Hama Monyet Terpadu

Persoalannya adalah, haramkah budidaya monokultur? Pertanyaan ini seolah menjelma menjadi kegalauan di tengah realitas kebutuhan manusia akan kertas.

Perluasan areal tanam sebagai upaya peningkatan produksi akasia (ekstensifikasi) harus dipertimbangkan. Risiko ketidakseimbangan ekosistem akibat monopoli satu jenis tumbuhan perlu diminimalisir.

Baca juga artikel terkait : Kerusakan Hutan Akibat Deforestasi dan Perubahan Iklim

budidaya monokultur

Oleh karena itu, harus ada upaya pengelolaan hutan tanaman yang ditujukan untuk kestabilan flora dan fauna dengan tetap mempertahankan produktivitas.

Salah satu upaya pengelolaan hutan tanaman yang ramah lingkungan tanpa menurunkan produktivitas tanaman adalah intensifikasi.

Intensifikasi yaitu peningkatan produksi dengan mengoptimalkan faktor-faktor produksi itu sendiri. Intensifikasi fokus kepada kualitas kayu. Bukankah kuantitas tanpa disertai kualitas itu mubazir? Akan tetapi, kualitas yang didapat dengan optimalisasi adalah efisiensi.

Manusia sebagai pelaku budidaya tidak boleh serakah. Hutan tanaman tidak perlu meluas ke areal konservasi dan hutan lindung.

Dengan demikian, monyet masih dapat hidup dengan makan pisang ataupun tumbuhan buah lainnya.

Pada akhirnya, budidaya monokultur menjadi keniscayaan selama manusia membutuhkan bahan baku. Praktik tidak harus berhenti.

Salah satu hal yang perlu dipastikan adalah proses yang ekologis dari usaha monokutur itu sendiri.

Pemantauan dilakukan untuk memastikan bahwa budidaya hutan tanaman sudah dilakukan dengan tepat. Proses yang sudah tepat harus disertifikasi.

Dengan kata lain, halal atau haram praktik monokultur tergantung pada ada tidaknya sertifikat praktik ramah lingkungan (ekologis) yang dipegang oleh pengusaha hutan tanaman/perusahaan.

Baca juga : Perlindungan Kerusakan Hutan Melalui Kearifan Lokal vs Pemerintah

You may also like...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.