Kunci Untuk Meningkatkan Imunoterapi Kanker

Imunoterapi kanker

Metastase (daerah hitam) di paru-paru tikus tipe liar (WT) dan tikus yang kekurangan sel dendritik DC1 (Batf3 – / -), menunjukkan bahwa sel dendritik DC1 diperlukan untuk imunoterapi kanker yang efisien saat vaksinasi dengan antigen tumor (Credit: CNIC).

Para peneliti Centro Nacional de Investigaciones Cardiovasculares Carlos III (F.S.P.) telah menyelidiki bagaimana subtipe yang berbeda dari sel respon kekebalan penting yang disebut CD8+ limfosit T bekerja sama untuk meningkatkan respons anti tumor yang lebih kuat. 

Penelitian terbaru berhasil menemukan anti kanker yang menghambat pertumbuhan sel kanker.

Hasilnya menunjukkan bahwa generasi respon imun yang optimal terhadap kanker memerlukan kerjasama antara dua jenis sel T memori.

Dua jenis sel T memori ini adalah sel T memori yang beredar dalam sirkulasi darah dan sel T memori dalam tempat lainnya di jaringan.

Dua jenis sel T ini dapat diaktifkan kembali dengan strategi imunoterapi kanker yang ada saat ini.

Hasil penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal Nature Communications.

Imunoterapi kanker yang lebih baik

Studi ini memiliki potensi besar untuk memperbaiki strategi imunoterapi kanker yang ada saat ini.

Imunoterapi kanker

Hal ini terutama yang berkaitan dengan pencegahan metastasis, yaitu penyebaran tumor ke organ yang lebih jauh. 

Untuk pencegahan metastasis, sel kanker resisten dapat dihilangkan dengan penemuan baru ini.

Imunoterapi kanker adalah strategi penggunaan sistem kekebalan tubuh untuk melawan kanker.

Imunoterapi kanker telah merevolusi pengobatan penyakit ini, dan telah dipilih oleh jurnal Science sebagai kemajuan ilmiah utama pada tahun 2013.

Sebelumnya juga telah ada penelitian yang mengungkap masa depan pengobatan kanker.

Mengapa sulit mengatasi kanker?

Menurut pemimpin studi David Sancho, kanker dapat lolos dari kendali sistem kekebalan tubuh karena limfosit T sitotoksik yang dapat mengenali dan menghilangkan sel tumor itu terhambat.

“Imunoterapi saat ini didasarkan pada pengaktifan kembali limfosit T ini. Namun, baru sedikit diketahui tentang bagaimana cara agar dapat menghasilkan dengan lebih efektif. Dan khususnya bagaimana daya imun dapat dipicu untuk mencegah perkembangan tumor dan metastasis,” ungkap Sancho.

Strategi tim peneliti melawan kanker

Tim peneliti CNIC menghasilkan sel T sitotoksik yang secara khusus menargetkan kanker, dengan menggunakan metode vaksinasi yang berbeda dengan antigen tumor.

Bergantung pada metode vaksinasi, limfosit T memori bisa terdapat beredar di dalam sirkulasi darah dan dalam jaringan, dan bisa juga berada dalam jaringan namun tidak disirkulasikan.

Sel T memori dalam jaringan diketahui lebih efisien dalam melawan infeksi ulang. Namun bagaimana kontribusinya terhadap kekebalan anti tumor belum diketahui sampai sekarang.

Menggambarkan penelitian tersebut, penulis pertama Michel Enamorado menjelaskan bagaimana tim membandingkan efisiensi imunitas anti tumor oleh setiap jenis sel T memori.

“Dan kami menemukan bahwa sel memori dalam sistem sirkulasi dan jaringan hidup bekerja sama untuk menghasilkan respon optimal,” ujarnya.

“Sel memori jaringan menghasilkan status siaga yang dapat menarik dan mengaktifkan kembali sel memori yang beredar, menghasilkan respons kekebalan yang lebih cepat dan lebih efektif.”

Transfer adoptif limfosit T

Pendekatan imunoterapi kanker lainnya yang sudah digunakan pada pasien adalah transfer adopsi sel T yang menargetkan tumor.

Para penulis menunjukkan bahwa sel T memori yang beredar mampu mengubah dirinya menjadi sel memori khas dalam konteks infeksi dan kanker.

Selain itu, efisiensi imunoterapi semakin meningkat dengan menggabungkan transfer adopsi ini dengan strategi klinis saat ini, untuk mengaktifkan kembali respons antitumor sel T dengan antibodi terhadap reseptor PD-1.

Para penulis juga menemukan bahwa pengaktifan kembali respons anti-tumor pada sel T sitotoksik memori mensyaratkan subtipe DC1 dari sel dendritik.

Studi tersebut menunjukkan bahwa respon imun anti tumor yang optimal memerlukan pembangkitan sel T memori yang bersirkulasi dan dalam jaringan.

Kedua subtipe sel T memori dapat diaktifkan kembali dengan perawatan imunoterapi saat ini. Dan untuk reaktivasi keduanya memerlukan sel dendritik DC1.

Imunoterapi kanker bukan sekadar pengobatan yang dapat secara efektif mendorong penolakan tumor primer.

Yang terpenting, ini adalah alat mendasar untuk menghambat metastasis setelah operasi untuk menghilangkan tumor primer.

Sumber :

www.sciencedaily.com

www.sciencenewsline.com

www.causality.io

Dedi Harmoko

Dedi Harmoko merupakan penulis berbagai jurnal nasional maupun internasional yang berkaitan dengan sains. Untuk menjalin kerja sama, silahkan menghubungi dediharmoko07@gmail.com.

You may also like...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.