Jumlah Orangutan di Kalimantan Berkurang Lebih Dari 100.000

Jumlah orangutan di Kalimantan berkurang lebih dari 100.000 selama periode 16 tahun, sebagai akibat dari perubahan tutupan lahan.

Hasil ini merupakan perkiraan yang dilaporkan dalam jurnal Current Biology pada 15 Februari. Hasilnya menunjukkan bahwa lebih dari 100.000 orangutan pulau tersebut lenyap antara tahun 1999 dan 2015.

Banyak dari kerugian tersebut tampaknya didorong oleh permintaan penebangan, perkebunan kelapa sawit, pertambangan, kertas, dan penggundulan hutan terkait. 

Namun, banyak orangutan juga telah menghilang dari daerah hutan yang lebih utuh, ungkap periset.

Baca juga : Ekspansi Perkebunan Kelapa Sawit Mengancam Primata

Penyebab kelangkaan orangutan

Temuan tersebut menunjukkan bahwa perburuan dan konflik langsung lainnya antara orangutan dan masyarakat menjadi ancaman utama bagi spesies tersebut.

“Penurunan kepadatan populasi paling parah terjadi di daerah yang digunduli atau ditransformasikan untuk pertanian industri, karena orangutan berjuang untuk tinggal di luar kawasan hutan,” ujar Maria Voigt dari Max Planck Institute for Evolutionary Anthropology di Jerman.

jumlah orangutan di kalimantan

“Namun, yang mengkhawatirkan adalah jumlah orangutan terbesar hilang dari daerah yang tetap berhutan, selama masa studi. Ini menyiratkan peran besar pembunuhan.”

Untuk memperkirakan perubahan ukuran populasi orangutan dari waktu ke waktu, Voigt, bersama dengan Serge Wich dari Universitas Liverpool John Moores di Inggris dan rekan mereka yang mewakili 38 institusi internasional, menyusun survei lapangan yang dilakukan dari tahun 1999 sampai 2015.

Mereka mengekstrapolasi ukuran keseluruhan populasi pulau ini dari jumlah sarang orangutan yang diamati di seluruh wilayah spesies di Kalimantan.

Tim mengamati sebanyak 36.555 sarang. Mereka memperkirakan jumlah orangutan di Kalimantan hilang sebanyak 148.500 antara tahun 1999 dan 2015.

Data tersebut juga menunjukkan bahwa hanya 38 dari 64 kelompok orangutan yang dipisahkan secara spasial (dikenal sebagai metapopulasi) sekarang mencakup lebih dari 100 individu, yang merupakan batas bawah yang dapat diterima untuk dianggap layak.

Penurunan habitat orangutan kalimantan

Untuk mengidentifikasi kemungkinan penyebab kehilangan tersebut, para periset mengandalkan peta perkiraan perubahan tutupan lahan selama periode yang sama yang dimungkinkan oleh kemajuan teknologi penginderaan jauh.

Perbandingan jumlah orangutan dan kehilangan habitat menunjukkan bahwa pembebasan lahan menyebabkan tingkat penurunan yang paling dramatis.

Baca juga : Hutan Tua Melindungi Burung Dalam Pemanasan Iklim

Namun, jumlah orangutan di Kalimantan yang jauh lebih banyak hilang di hutan tebang pilih dan primer.

Hal itu karena sementara tingkat penurunan kurang terjal di wilayah tersebut, itu juga dimana jauh lebih banyak orangutan ditemukan, para peneliti menjelaskan.

Pada tahun 2015, mereka melaporkan, sekitar setengah dari orangutan yang diperkirakan tinggal di Borneo pada tahun 1999 ditemukan di daerah-daerah di mana penggunaan sumber daya telah menyebabkan perubahan yang signifikan terhadap lingkungan.

jumlah orangutan di kalimantan

Berdasarkan perkiraan hilangnya tutupan hutan di masa depan dan anggapan bahwa orangutan pada akhirnya tidak dapat bertahan di luar kawasan hutan, para periset memperkirakan bahwa lebih dari 45.000 orangutan akan hilang dalam 35 tahun ke depan.

Baca juga : Kerusakan Hutan Akibat Deforestasi dan Perubahan Iklim

Kunci pelestarian orangutan Kalimantan

Mereka mengatakan bahwa kemitraan yang efektif dengan perusahaan penebangan kayu dan industri lainnya sekarang penting untuk kelangsungan hidup orangutan Kalimantan.

Pendidikan dan kesadaran masyarakat juga akan menjadi kunci.

“Orangutan fleksibel dan dapat bertahan sampai batas tertentu dalam mosaik hutan, perkebunan, dan hutan bekas tebangan, tapi hanya jika tidak dibunuh,” kata Wich.

“Jadi, selain melindungi hutan, kita perlu fokus pada penanganan penyebab pembunuhan orangutan.”

“Yang terakhir ini membutuhkan kesadaran dan edukasi masyarakat, penegakan hukum lebih efektif, dan juga studi lebih lanjut mengapa orang membunuh orangutan di tempat pertama.”

Mereka mencatat bahwa Indonesia dan Malaysia saat ini sedang mengembangkan rencana aksi jangka panjang untuk konservasi orangutan.

Dengan memperhitungkan kegagalan masa lalu, harapannya adalah bahwa strategi baru untuk melindungi orangutan dapat dikembangkan dan diterapkan. 

Baca juga hasil penelitian terkait : Perlindungan Kerusakan Hutan Melalui Kearifan Lokal vs Pemerintah

Sumber :

www.cell.com

www.phys.org 

www.sciencedaily.com 

www.nytimes.com 

www.npr.org 

www.theguardian.com 

www.abc.net.au 

www.independent.co.uk

www.theconversation.com 

www.dailymail.co.uk

You may also like...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.