Karangan Ilmiah Populer Perlu Ditulis dan Disebarluaskan*

Beberapa tahun yang lalu, seorang ahli ekonomi yang berbicara di depan suatu khalayak yang kebanyakan terdiri dari ahli pertanian, terjebak oleh pertanyaan yang berasal dari seorang pendengar.

Semua ahli pertanian dan ahli gizi  yang menyaksikan peristiwa itu sampai pada kesimpulan bahwa ahli ekonomi itu buta masalah gizi.

Ia ternyata tidak tahu bahwa kita memerlukan sumber kalori, seperti beras dan jagung untuk memberikan tenaga; sumber protein seperti tempe, ikan dan daging untuk jaringan tubuh yang rusak, serta membentuk sel yang baru; sumber vitamin dan mineral seperti sayur-mayur untuk memberikan enzim-enzim penggerak.

Proses kimia di dalam tubuh serta lemak yang selain menjadi sumber tenaga juga diperlukan sebagai pelarut beberapa vitamin di dalam peredarannya ke seluruh tubuh dalam susunan makanan kita.

Ahli-ahli pertanian di dalam hati mungkin terkejut akan kedangkalan pengetahuan ahli ekonomi itu.

Yang tak mereka insafi saat itu ialah bahwa rekan-rekannya ahli pertanian sangat dangkal pula pengetahuannya karena ternyata tidak memahami konsep-konsep ekonomi tertentu.

Karangan Ilmiah Populer

Gambar ilustrasi (Credit : fondoemprendedores.fundacionrepsol.com)

Peristiwa-peristiwa semacam itu menunjukkan perlunya ada karangan ilmiah dan teknis  dalam berbagai bidang yang ditulis secara populer.

Gunanya ialah untuk membuka kesempatan bagi orang-orang dari luar bidang ilmunya sendiri, dengan membaca dalam waktu senggang.

Kalau ini terjadi, maka ada kemungkinan bahwa prinsip-prinsip itu pada suatu ketika dapat diterapkan olehnya dalam bidangnya sendiri. Akibatnya, bidangnya sendiri akan dapat memberi manfaat lebih banyak.

Keperluan semacam ini lebih-lebih terasa perlunya di Indonesia, karena selama ini terdapat tembok-tembok tebal yang memisah fakultas-fakultas di dalam suatu universitas.

Jurusan ekonomi pertanian yang bernaung di bawah Fakultas Ekonomi, misalnya, sama sekali tidak tahu apa yang terjadi di jurusan yang sama yang bernaung di bawah Fakultas Pertanian, begitupun sebaliknya. Walaupun kedua fakultas itu bernaung di bawah bendera universitas yang sama.

Sebagai contoh lain, seorang mahasiswa yang mengambil Jurusan Matematika, tidak belajar yang lain daripada Matematika, karena ia diitikadkan harus menjadi ahli matematika tulen.

Demikian tulennya  hingga menggunakan mistar hitung atau mesin hitung pun ia tidak tahu, karena alat-alat seperti itu hanya perlu bagi seorang ahli fisika atau ahli pertanian.

Tidak mengherankan bahwa akhirnya matematika menjadi begitu murninya sehingga steril.

Karangan Ilmiah Populer

*Salah satu bagian tulisan dalam Buku “Daun-Daun Berserakan” karya Prof. H. Andi Hakim Nasution

Reno Ar

Reno Armando merupakan penulis berbagai jurnal nasional maupun internasional.

You may also like...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.