Masalah dalam Pengelolaan dan Pelestarian Lingkungan Hidup

Pelestarian lingkungan hidup pada kenyataannya banyak menemui rintangan. Sentralisasi pengelolaan lingkungan tidak jarang berbenturan dengan pengelolaan secara tradisional oleh masyarakat hukum adat melalui kearifan lokal mereka.

Sentralisasi pengelolaan dan pelestarian lingkungan hidup

Sirait et al. (2000) menyatakan bahwa semenjak pihak swasta padat modal dan BUMN diberi kesempatan utama dalam pemanfaatan hutan, maka masyarakat hukum adat dirugikan dalam pemanfaatan hutan karena hutan adat dianggap milik nasional.

Pemanfaatan hutan tersebut diantaranya dapat dalam bentuk :

  1. HPH (Hak Pengusahaan Hutan)
  2. HPHH (Hak Pemungutan Hasil Hutan)
  3. HTI (Hutan Tanaman Industri)
  4. HGU (Hak Guna Usaha)

Pada dasarnya, pemanfaatan hutan tersebut memiliki tujuan yang baik, terutama dalam rangka pelestarian lingkungan hidup. Namun dalam implementasinya terkadang muncul banyak penyimpangan, yang dilakukan oleh oknum-oknum yang ingin memanfatkan hutan secara besar-besaran.

Baca juga : Perlindungan Kerusakan Hutan Melalui Kearifan Lokal vs Pemerintah

Akibatnya, terjadilah eksploitasi hutan berlebihan, penebangan ilegal, serta konflik dengan masyarakat hukum adat yang berkepanjangan atas pemilikan dan penasionalan manfaat hutan di dalam wilayah adat.

pelestarian lingkungan hidup

Penyebab kerusakan lingkungan

Kerusakan lingkungan, menurut Soemarwoto (1999), dapat terjadi karena beberapa sebab, antara lain karena :

  1. Citra lingkungan yang dimiliki masyarakat berbeda dengan kenyataan;
  2. Masyarakat terlambat mengadakan penyesuaian untuk memperoleh citra lingkungan yang baru;
  3. Manusia tidak memperlakukan lingkungan sekitarnya secara rasional;
  4. Adanya potensi keserakahan, ketamakan dan kerakusan pada setiap manusia untuk mengambil keuntungan yang sebesar-besarnya dari ketersediaan sumberdaya alam.

Baca juga : Hutan Campuran Unggul secara Ekologis dan Ekonomis

CRITC LIPI (2005) menyatakan bahwa masyarakat modern relatif mampu beradaptasi terhadap perubahan lingkungan alam.

Penggunaan teknologi pada awalnya merupakan respon positif terhadap lingkungan alam, yaitu digunakan untuk membantu dan mempermudah manusia memanfaatkan alam.

Dalam perjalanannya, respon positif tersebut berubah menjadi respon yang negatif. Kemudahan memanfaatkan alam dengan teknologi justru memunculkan keserakahan manusia untuk memanfaatkan alam seluas-luasnya tanpa batas.

Manusia dan lingkungan

CRITC LIPI (2005) mengemukakan bahwa masyarakat tradisional kurang mampu beradaptasi dengan perubahan lingkungan alam, sehingga mereka selalu tetap memberikan respon berupa pemanfaatan alam seadanya saja.

Respon tersebut bertujuan agar pelestarian lingkungan hidup tetap terjaga atau alam tempat mereka hidup tetap terpelihara guna memenuhi kebutuhan dasar hidup mereka. Hal ini berimplikasi pada perilaku mereka yang sangat protektif terhadap alam.

Sebagai dasar, baca artikel sebelumnya Upaya Pelestarian Hutan Melalui Kearifan Lokal.

Seperti halnya salah satu masyarakat hukum adat, yakni Suku Anak Dalam di Provinsi Jambi. Hingga saat ini mereka terus bertahan dari tekanan hidup yang muncul dari sekeliling wilayah tradisional mereka.

Baca lebih lanjut Mengenal Suku Anak Dalam, Salah Satu Suku Terasing di Indonesia

pelestarian lingkungan hidup

Masyarakat transmigrasi dan perantau dengan kebudayaan pasca-tradisionalnya masuk dalam jumlah yang cukup besar pada 20 tahun terakhir di TNBD (Taman Nasional Bukit Duabelas), yaitu wilayah hidup Suku Anak Dalam (SAD). 

Untuk mengenal Taman Nasional Bukit Duabelas, baca Gambaran Umum Taman Nasional Bukit Dua Belas.

Hal ini berdampak pada pencarian nafkah, kehidupan sosial dan aspek kehidupan lain dari masyarakat SAD tersebut. Misalnya, penebangan kayu, baik secara resmi maupun liar, dan pembukaan lahan untuk perkebunan karet dan kelapa sawit adalah aktivitas yang sebenarnya tidak umum dalam kehidupan masyarakat SAD.

Namun SAD itu sendiri merupakan suku yang tergolong defensif dan tidak terbiasa melakukan peperangan atau berjuang untuk mempertahankan hak adatnya (Weintré, 2003).

Dampak globalisasi terhadap kehidupan dan penghidupan masyarakat SAD di Provinsi Jambi sangat luar biasa. Mereka tidak punya pilihan kecuali menerima perubahan tersebut sambil merasakan dampak negatifnya.

Dampak tersebut antara lain:

  1. Menurunkan kualitas hidup masyarakat SAD (miskin total);
  2. Hukum pertanahan adat (semacam hak ulayat) SAD berupa hutan dan tanah dikuasai oleh pengusaha HPH melalui HGU; dan
  3. Kehilangan sumber mata pencaharian tradisionalnya berupa tumbuhan buah, tumbuhan keramat, umbi-umbian dan hewan buruan.

Sebagian dari kelompok masyarakat SAD mencoba hidup berdusun melalui proyek pemukiman pemerintah dan sebagian lagi memilih tetap bertahan hidup di hutan-hutan sisa HPH dan HTI.

Sebagai dampak dari derasnya pembangunan dewasa ini, corak kehidupan tradisional masyarakat SAD di Provinsi Jambi telah banyak mengalami perubahan. Akhirnya, mereka tidak punya pilihan selain menerima kenyataan hidup yang ada (Kemensos RI, 2008).

Baca juga : Dampak Perubahan Iklim Terhadap Taman Nasional

pelestarian lingkungan hidup

Sumber:

CRITC LIPI, 2005. Kajian Kearifan Lokal masyarakat Desa Sabang Mawang, Sededap dan Pulau Tiga Kecamatan Bunguran Barat Kabupaten Natuna Propinsi Kepulauan Riau. University of Riau: Research and Development Center of Aquatic and Environtmental Resource Management

Kementerian Sosial RI. Diakses pada 20 Februari 2011. Suku Anak Dalam di Tengah Arus Globalisasi. http://www.depsos.go.id.

Sirait, M., Fay, C. dan Kusworo, A., 2000, Bagaimana Hak-hak Masyarakat Hukum Adat dalam Mengelola Sumber Daya Alam Diatur. Southeast Asia Policy Research Working Paper, No. 24, Bogor : ICRAF SE-Asia. Paper dibawakan dalam Roundtable Discussion di Wisma PKBI tanggal 20 Oktober 1999 dan diseminarkan pada acara Seminar Perencanaan Tata Ruang Secara Partisipatif oleh WATALA dan BAPPEDA Propinsi Lampung, 11 Oktober 2000, Bandar Lampung.

Soemarwoto, O., 1999. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Yogyakarta: GMUP.

Weintré, J., 2003. Organisasi Sosial dan Kebudayaan Kelompok Minoritas Indonesia: Studi Kasus Masyarakat Orang Rimba di Sumatra (Orang Kubu Nomaden). Yogyakarta: Pusat Studi Kebudayaan UGM Kerjasama Pendidikan Tersier Indonesia-Australia

You may also like...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.