Categories: Biologi

Peneliti Menemukan Metode Baru Pengobatan TBC

Untuk pertama kalinya, melalui sebuah analisis mendalam terhadap komponen selular kerabat dekat patogen penyebab TBC, ilmuwan dari Rockefeller menyarankan sebuah obat baru untuk menekan berkembangnya permasalahan kesehatan.

Tingginya angka infeksi TBC

Sebagaimana yang kita ketahui, setiap tahun, hampir setengah juta orang di seluruh dunia terinfeksi strain TB mutan yang mampu bertahan terhadap antibiotik yang ada saat ini.

Penelitian yang dilakukan oleh tim Rockefeller ini dipimpin oleh Elizabeth Campbell, dan bekerja sama dengan para ilmuwan di Memorial Sloan Kettering.

Fokus penelitian pengobatan TBC

Penelitian berfokus pada kelompok protein yang disebut RNA polimerase.

Penting bagi semua sel, mesin protein ini melakukan proses mendasar, dimana gen dalam cetak biru DNA disalin menjadi RNA.

RNA polimerase adalah target antibiotik rifampisin pada pengobatan TBC modern, yang sangat bergantung pada berbagai kombinasi obat.

Beberapa bakteri menjadi resisten terhadap rifampisin dengan mengakuisisi mutasi RNA polimerase.

“Sekarang kita dapat memvisualisasikan mesin molekul bakteri yang menjadi target obat itu. Kita dapat menggunakan pendekatan panduan struktur untuk pemahaman yang lebih baik mengenai cara kerja obat, bagaimana bakteri menjadi resisten terhadap itu, dan bagaimana potensi untuk meningkatkan pemberian obat,” ujar Campbell, seorang peneliti senior di Laboratorium Seth Darst Biofisika Molekuler.

Campbell adalah salah satu penulis senior dari laporan yang diterbitkan dalam jurnal eLife itu.

Baca penelitian terkait antibiotik : Inilah Obat Antibiotik Yang Dapat Diupdate Melalui Komputer

Sebuah peta molekul

Untuk memvisualisasikan struktur tersebut, peneliti menggunakan metode pencitraan yang dikenal sebagai kristalografi sinar-x.

Dengan mengkristalisasikan enzim dan molekul lain yang berinteraksi satu sama lainnya, peneliti dapat melihat bagaimana terjadinya kecocokan itu.

Kemampuan untuk memvisualisasikan hal yang terjadi ini dapat membuka jalan menuju pengobatan TBC yang lebih efektif, yang diharapkan dapat lebih aman terhadap enzim dan molekul lainnya.

Sebuah metode baru pengobatan TBC

“Berdasarkan temuan hasil penelitian ini, kami sudah meneliti suatu senyawa baru dan dengan mekanisme baru yang dapat menghambat terjadinya resistansi terhadap rifampisin TB. Tujuan akhirnya adalah kami dapat melakukan uji klinis untuk menemukan metode baru pengobatan TBC, termasuk untuk yang resistan terhadap rifampisin,” ujar Campbell.

Baca penelitian terkait : Pendekatan Baru untuk Vaksin TB Menawarkan Perlindungan yang Lebih Baik

Ahli Kimia Rockefeller, Sean Brady, yang awalnya tidak terlibat langsung dalam penelitian ini, memberikan tim suatu senyawa baru.

Dan sekarang, dia juga ikut bekerja sama dengan Campbell, Darst, dan rekan lainnya untuk mengembangkan senyawa itu menjadi antibiotik.

Tidak semua bakteri itu sama

Diperkirakan bahwa sekitar sepertiga populasi dunia terinfeksi M. tuberculosis, yaitu bakteri yang kita kenal sebagai penyebab TBC.

Namun dalam studi tersebut, yang para peneliti gunakan adalah strain kerabat dekatnya, yaitu M. smegmatis.

“Kami membutuhkan ratusan liter sel untuk mendapatkan bahan yang cukup untuk melakukan kristalisasi,” kata Elizabeth Hubin, salah seorang anggota tim peneliti.

“Sementara M. tuberculosis tumbuh terlalu lambat untuk mendapatkan volume yang dibutuhkan. Selain itu, juga sangat berisiko menggunakannya di laboratorium,” tambahnya.

Namun, diketahui bahwa RNA polimerase M. smegmatis tersebut sangat identik dengan RNA polimerase M. tuberculosis, baik itu urutan, struktur, maupun perilakunya.

Inilah yang menghasilkan temuan penting lain dalam penelitian ini.

Terdapat kelemahan jika hanya mengandalkan E. coli sebagai model ketika ingin mengembangkan antibiotik untuk bakteri penyebab TBC atau penyakit lainnya.

“Sebagian besar penelitian sebelumnya dilakukan terhadap RNA polimerase E. coli,” ungkap Campbell.

“Kita selalu berasumsi bahwa enzim bekerja dengan cara yang sama pada semua bakteri. Namun penelitian kami ini menunjukkan bahwa kita tidak bisa menganggap apa yang berlaku pada suatu bakteri juga berlaku hal yang sama pada semua bakteri.”

“Setiap patogen perlu dikaji secara individual,” ia menambahkan, “jadi kita memang memiliki banyak pekerjaan yang harus dilakukan.”

Baca juga : Obat Paru-Paru Basah Alami yang Praktis dan Ampuh

Sumber:

www.sciencedaily.com

www.phys.org

www.newswire.rockefeller.edu

Recent Posts

Cara Mengusir Semut di Rumah (100% Ampuh)

Terdapat berbagai macam cara mengusir semut yang bisa kita lakukan di rumah. Sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa keberadaan semut… Read More

3 weeks ago

Cegah Tekanan Darah Tinggi, Hindari Asap Rokok!

Jika ruangan atau mobil berasap, menjauhlah sampai bersih. Itulah pesan utama penelitian yang dipresentasikan hari ini pada EuroHeartCare 2019, sebuah… Read More

3 weeks ago

Model Rantai Markov untuk Pencarian Pesawat MH370

Upaya terbaru menggabungkan data satelit dengan model matematika rantai Markov untuk mencari pesawat MH370, dapat memberikan kemajuan dalam upaya mencari… Read More

4 weeks ago

24 Obat Sakit Gigi Tradisional Praktis

Apakah Anda pernah mengalami sakit gigi? Atau mungkin Anda sekarang sedang sakit gigi? Tenang, beberapa obat sakit gigi berikut dikenal… Read More

1 month ago

Penggunaan Antibiotik Terkait dengan Risiko Serangan Jantung dan Stroke

Penggunaan antibiotik, terutama pada wanita, dalam jangka waktu yang lama dapat meningkatkan risiko serangan jantung atau stroke, menurut penelitian terhadap… Read More

1 month ago

Obat Diabetes Ini Dapat Membalikkan Gagal Jantung

Para peneliti baru-baru ini menunjukkan bahwa obat diabetes empagliflozin dapat mengobati dan membalikkan perkembangan gagal jantung pada model hewan non-diabetes.… Read More

1 month ago