Categories: Astronomi

NASA Menjelaskan Radiasi Ruang Angkasa

Partikel bermuatan itu mungkin memang sangat kecil, tapi sangat penting bagi astronot.

Program Penelitian Manusia NASA (HRP) sedang menyelidiki partikel-partikel ini untuk memecahkan salah satu tantangan terbesar bagi perjalanan manusia ke Mars: radiasi ruang angkasa dan pengaruhnya terhadap tubuh manusia.

Baca juga : Ini Solusi NASA untuk Membangun Rumah di Mars

“Salah satu tantangan terbesar kami dalam misi ke Mars adalah melindungi astronot dari radiasi,” ujar ilmuwan Elemen Radiasi Luar Angkasa NASA, Lisa Simonsen, Ph.D.

“Anda tidak dapat melihatnya, Anda tidak dapat merasakannya. Namun Anda tidak sadar bahwa Anda sedang dibombardir oleh radiasi.”

Kesalahpahaman umum tentang radiasi ruang angkasa adalah bahwa hal tersebut serupa dengan radiasi di Bumi. Ini sebenarnya sangatlah berbeda.

Di Bumi, radiasi yang berasal dari matahari dan ruang terutama diserap dan dibelokkan oleh atmosfer dan medan magnet kita.

Berikut penelitian tentang radiasi matahari : Aktivitas Matahari 7.000 Tahun Yang Lalu

Jenis radiasi utama yang dipikirkan orang di Bumi dapat ditemukan di klinik dokter gigi, yaitu sinar-X. Perisai terhadap sinar-X dan jenis radiasi elektromagnetik lainnya biasanya terdiri dari selimut timah yang berat.

Radiasi ruang angkasa, bagaimanapun juga, berbeda karena memiliki energi yang cukup besar untuk bertabrakan dengan keras dengan nukleus, yang membentuk pelindung dan jaringan manusia.

Tabrakan yang disebut tabrakan nuklir (tabrakan inti) tersebut menyebabkan radiasi ruang angkasa masuk dan perisai nukleus pecah menjadi berbagai jenis partikel baru, yang disebut sebagai radiasi sekunder.

“Di ruang angkasa, ada radiasi partikel, yang pada dasarnya semuanya itu ada di tabel periodik, hidrogen sepanjang jalan melalui nikel dan uranium, bergerak mendekati kecepatan cahaya,” ungkap Fisikawan Riset NASA, Tony Slaba, Ph.D.

“NASA tidak ingin menggunakan bahan-bahan berat seperti timah untuk melindungi pesawat ruang angkasa, karena radiasi ruang angkasa yang masuk akan mengalami banyak tabrakan nuklir dengan perisai, yang menyebabkan produksi radiasi sekunder tambahan.”

“Kombinasi radiasi ruang angkasa yang masuk dengan radiasi sekunder ini dapat menyebabkan paparan radiasi yang lebih buruk bagi astronot.”

Program Penelitian Manusia (HRP) NASA difokuskan untuk menyelidiki dampak radiasi ruang angkasa pada tubuh manusia, terutama yang berhubungan dengan sinar kosmik galaksi (GCR).

“Ada tiga sumber utama radiasi ruang angkasa, namun GCR lah yang sangat diperhatikan peneliti untuk misi ke Mars,” ungkap Ahli Fisika NASA, John Norbury, Ph.D.

“GCR berasal dari ledakan bintang yang dikenal sebagai supernova di luar tata surya, merupakan yang paling berbahaya bagi tubuh manusia.”

Sumber radiasi ruang angkasa lainnya termasuk Sabuk Van Allen, di mana partikel radiasi terjebak di sekitar bumi, dan partikel-partikel surya (SPEs), yang terkait dengan flare matahari dan coronal mass ejections dan lebih mungkin terjadi pada saat aktivitas matahari yang intens.

Baca penelitian terkait : Misteri Atmosfer Panas Matahari

Tapi GCR inilah yang pertama dipikirkan oleh para peneliti HRP agar dapat menciptakan tindakan pencegahan untuk melindungi astronot dari radiasi luar angkasa.

Tantangannya adalah memperoleh data yang memadai mengenai pemaparan GCR dan konsekuensi biologisnya.

Periset menggunakan Laboratorium Radiasi Antariksa NASA (NSRL) untuk menyelidiki efek radiasi pengion. Namun radiasi ruang angkasa memang cukup sulit disimulasikan di Bumi.

Dosis radiasi di laboratorium bisa lebih terkonsentrasi dan diberikan dalam jangka waktu yang lebih singkat daripada yang sebenarnya dialami astronot selama setahun di luar angkasa.

Baca juga : Mengapa Kita Belum Menemukan Kehidupan di Luar Bumi?

Ketika NASA mempersiapkan untuk melakukan perjalanan ke Mars, maka akan terus digunakan, ditingkatkan dan dikembangkan berbagai teknologi untuk melindungi astronot.

Dosimeter International Space Station, Asessor Radiasi Elektronik Hybrid Orion, dan Detector Penilaian Radiasi dapat mengukur dan mengidentifikasi radiasi berenergi tinggi.

Proton, neutron dan elektron mungkin memang sangat kecil, tapi akan selalu penting bagi NASA.

Sumber :

www.nasa.gov

www.phys.org

www.sciencedaily.com

www.enn.com

www.sciencenewsline.com

Recent Posts

Strategi diet unik dari spons laut tropis – Sains Terkini

Penelitian yang dilakukan di Universitas Hawaiʻi (UH) di Mānoa School of Ocean and Earth Science and Technology (SOEST) pada spons… Read More

4 days ago

Bakteri aneh mengisyaratkan asal kuno fotosintesis – Sains Terkini

Struktur di dalam bakteri langka mirip dengan yang menggerakkan fotosintesis pada tanaman saat ini, menunjukkan prosesnya lebih tua dari yang… Read More

3 weeks ago

Cahaya baru tentang evolusi cichlid di Afrika – Sains Terkini

Cichlids (Cichlidae) adalah sekelompok ikan kecil sampai sedang yang ada di mana-mana di habitat air tawar di daerah tropis. Mereka… Read More

3 weeks ago

Cara Mengusir Tikus dengan Bahan Alami

Tikus berseliweran di rumah Anda? Bingung bagaimana cara mengusir tikus yang ampuh dan mencegah tikus datang kembali? Jangan khawatir, kali… Read More

1 month ago

10 Cara Mengusir Lalat dan Mencegahnya Datang Kembali

Anda merasa terganggu dengan keberadaan lalat di rumah Anda? Jangan khawatir, kali ini Sains Terkini akan membagikan cara mengusir lalat… Read More

1 month ago

Cara Mengusir Semut di Rumah (100% Ampuh)

Terdapat berbagai macam cara mengusir semut yang bisa kita lakukan di rumah. Sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa keberadaan semut… Read More

4 months ago