Categories: Ekologi

Pengelolaan Gajah Sumatera

Salah satu sub jenis dari Gajah Asia (Elephas maximus) adalah Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) yang terdapat di Pulau Sumatera.

Gajah merupakan hewan herbivora yang makan hijauan, terutama hijauan yang mengandung banyak air.

Hal ini karena selain membutuhkan pakan yang banyak, mereka juga membutuhkan banyak minum, yaitu sekitar 90 – 100 liter dalam sehari.

Beberapa tumbuhan mereka sukai, karena mengandung banyak air, antara lain pisang hutan, rebung bambu, cempedak air, jambu-jambuan, dan tebu liar.

Di samping itu, hewan ini juga minum air tanah agar metabolisme tubuhnya tetap normal.

Di Sumatera, gajah sering makan tanaman pertanian, dan karena itu mereka sering disebut sebagai hama. Tanaman pertanian tersebut dapat berupa tanaman pangan, perkebunan, maupun hortikultura.

Tanaman pangan yang dijadikan pakan umumnya adalah padi, jagung, kacang-kacangan, serta umbi-umbian.

Sementara jenis tanaman perkebunan yang sering dijadikan pakan biasanya adalah kelapa dan kelapa sawit.

Selain itu, hewan besar satu ini juga mengonsumsi tanaman buah hortikultura, seperti durian, mangga, pisang, jambu, dan rambutan.

Tanaman pertanian yang dikonsumsi ini terutama tanaman yang berbatasan langsung dengan hutan habitat mereka. Misalkan, pertanaman para transmigran dan perkebunan swasta / negeri.

Gajah memang kerap menimbulkan masalah bagi manusia. Hal ini terjadi karena habitat mereka yang bersinggungan dengan areal perkebunan atau pemukiman manusia.

Kondisi ini dapat diperparah apabila mereka keluar dari habitatnya, dan kemudian masuk ke areal milik manusia.

Pada titik ini, secara sepihak hewan ini dilabeli sebagai hama oleh manusia. Padahal bisa jadi manusia lah yang sudah masuk ke wilayah yang sebelumnya merupakan wilayah lintasan (runway) mereka.

Dengan kata lain, manusia lah yang telah mengusik ketenangan populasi gajah demi kepentingan perluasan perkebunan atau pemukiman.

Oleh karena itu, dalam upaya memproteksi areal pertanian dari “hama” ini, sewajarnya dilakukan dengan bijaksana.

Teknik pengendalian yang dipilih harus melalui pendekatan yang konservatif. Terlebih karena saat ini gajah merupakan hewan langka yang dilindungi oleh undang-undang.

Pada tulisan ini, penulis tidak menguraikan pengendalian hama gajah pada areal pertanaman, akan tetapi lebih memfokuskan pada pengelolaan secara umum.

Baca artikel menarik : Cara Unik Mengusir Monyet dan Gajah Menurut Raghvendra Narayan

Beberapa teknik pengelolaan hama yang dapat dilakukan adalah:

1. Melakukan penangkapan dan penjinakan

Tujuannya adalah untuk dimanfaatkan dalam berbagai keperluan, antara lain:

  1. Kehutanan, yaitu untuk mengangkut kayu gelondongan dari hutan ke luar.
  2. Atraksi, yaitu untuk sirkus atau pertunjukan.
  3. Rekreasi, yaitu untuk kebun binatang dan taman safari.
  4. Diplomasi, yaitu terkait dengan tukar menukar satwa dengan kebun binatang lain, terutama dengan kebun binatang luar negeri.
  5. Keamanan, yaitu digunakan untuk patroli menjaga sawah / ladang / perkebunan dari serangan gajah liar.
  6. Pertanian, yaitu untuk membajak sawah / ladang.

2. Mengembalikan habitatnya

Caranya adalah mengembalikan daerah pemukiman manusia (transmigran), pertanian, atau perkebunan menjadi habitat gajah.

Namun hal ini cukup sulit untuk dilaksanakan sebab menyangkut banyak faktor.

3. Memindahkan ke habitat yang baru

Pemindahan dapat dilakukan pada kawasan konservasi, perlindungan atau pelestarian alam, dan sekaligus melakukan pembinaan terhadap kawasan tersebut.

Habitat baru ini dapat berupa taman nasional, suaka margasatwa, cagar alam, taman hutan raya, maupun taman wisata alam.

Beberapa daerah yang sudah ditetapkan untuk habitat gajah adalah:

  • Taman Nasional Gunung Leuser dan Cagar Alam Janthoi (Aceh)
  • Taman Wisata Holliday Resort dan Taman Hutan Raya Bukit Barisan (Sumut)
  • Suaka Alam Kerumutan, Hutan Lindung Bukit Baling-baling, Gian Duri, Buaya Bukit Batu, dan Air Sawan (Riau)
  • Taman Nasional Kerinci Seblat (Jambi, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, dan Bengkulu)
  • Suaka Margasatwa Padang Sugihan, Gumai Pasemah, Gunung Raya, dan Bentayan (Sumatera Selatan)
  • Way Kambas dan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (Lampung).

Dengan demikian, habitat baru diharapkan dapat menampung populasi gajah sehingga dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.

4. Sekolah gajah

Gajah pengganggu ditangkap dengan senapan bius, lalu diangkut menuju sekolah gajah terdekat.

Beberapa kawasan dijadikan sebagai tempat sekolah gajah, dimulai dari Way Kambas (Lampung), kemudian diikuti oleh kawasan lain seperti Lhokseumawe (Aceh), Sebanga (Riau), dan Sebokor (Sumsel).

Di sini, mereka akan diadaptasikan terlebih dahulu selama 30 hari. Dikenalkan dan dibiasakan dengan lingkungan baru dan termasuk pakan khusus yang berbeda dengan di alam.

Mereka dijinakkan selama sekitar 3 – 6 bulan untuk mematahkan mental liar mereka, dan agar patuh pada perintah pelatih.

Mereka akan dilatih tingkat keterampilan sesuai dengan kebutuhan manusia.

Terlebih hewan ini diketahui mempunyai daya ingat dan kepandaian yang tinggi, sehingga dapat mudah menyerap apa yang diajarkan oleh manusia.

Sumber: dirangkum dari berbagai sumber

Recent Posts

Siapa yang mendominasi wacana masa lalu? – Sains Terkini

Akademisi pria, yang terdiri dari kurang dari 10 persen arkeolog Amerika Utara, menulis sebagian besar dampak tinggi bidang ini, literatur… Read More

13 mins ago

Pengukuran konstan Hubble baru menambah misteri tingkat ekspansi alam semesta – Sains Terkini

Para astronom telah membuat pengukuran baru tentang seberapa cepat alam semesta mengembang, menggunakan jenis bintang yang sama sekali berbeda dari… Read More

27 mins ago

Tanaman yang tertekan harus memiliki zat besi di bawah kendali – Sains Terkini

Tidak seperti hewan, tanaman tidak dapat bergerak dan memanfaatkan sumber daya baru ketika ada kelangkaan atau kekurangan nutrisi. Sebaliknya, mereka… Read More

45 mins ago

Pencairan gletser bawah air terjadi pada tingkat yang lebih tinggi daripada prediksi pemodelan – Sains Terkini

Para peneliti telah mengembangkan metode baru untuk memungkinkan pengukuran langsung pertama tingkat lelehan kapal selam dari gletser tidewater, dan, dengan… Read More

7 hours ago

Pembelajaran mesin menerjemahkan pengaruh genetik terhadap perilaku – Sains Terkini

Tikus berlarian sambil mencari makan, tetapi genetika mungkin adalah tangan yang tak terlihat mengendalikan gerakan berkelok-kelok ini. Para peneliti di… Read More

7 hours ago

Pulsa plasma magnetik tereksitasi oleh putaran UK di atmosfer matahari – Sains Terkini

Sebuah tim ilmuwan internasional yang dipimpin oleh University of Sheffield telah menemukan bukti pengamatan yang sebelumnya tidak terdeteksi dari gelombang… Read More

7 hours ago