Simulasi molekuler menunjukkan bagaimana obat memblokir reseptor kunci – Sains Terkini

Banyak obat-obatan bekerja dengan menargetkan apa yang dikenal sebagai "reseptor berpasangan G-protein." Dalam sebuah studi baru, para ilmuwan dari Universitas Uppsala menggambarkan bagaimana mereka dapat memprediksi bagaimana molekul khusus yang dapat digunakan dalam imunoterapi baru melawan kanker mengikat reseptor ini. Metode perhitungan para peneliti, disajikan dalam jurnal Angewandte Chemie adalah kontribusi penting untuk desain obat berbasis struktur di masa depan.


Reseptor berpasangan G-protein (GPCR) adalah di antara kelompok target protein yang paling penting untuk pengembangan obat. Reseptor ini bereaksi terhadap, misalnya, cahaya, rasa, bau, adrenalin, histamin, dopamin dan daftar panjang molekul lain dengan mengirimkan sinyal biokimia lebih lanjut di dalam sel. Para peneliti yang melakukan survei GPCR dihargai dengan Hadiah Nobel Kimia tahun 2012.

Saat ini, sekitar 30 persen dari semua obat di pasaran memiliki GPCR sebagai protein target mereka. Beberapa molekul obat, seperti morfin, mengaktifkan reseptor (agonis) sementara yang lain, seperti beta blocker, menonaktifkannya (antagonis).

Salah satu GPCR yang penting adalah reseptor adenosine A2A. Antagonisnya dapat digunakan dalam imunoterapi baru melawan kanker. Bersama dengan perusahaan biofarmasi Sosei-Heptares, para peneliti Willem Jespers, Johan Åqvist dan Hugo Gutierrez-de-Terán dari Universitas Uppsala telah berhasil menunjukkan bagaimana serangkaian antagonis A2A mengikat reseptor dan menonaktifkannya.

Dengan simulasi dinamika molekuler dan perhitungan energi pengikat, menjadi mungkin untuk memprediksi bagaimana molekul dari perusahaan farmasi akan berikatan dengan reseptor dan seberapa kuat mereka melakukannya. Setelah itu, antagonis baru dirancang, dan disintesis oleh ahli kimia dari Universitas Santiago de Compostela, Spanyol. Struktur tiga dimensi dari kompleks yang terbentuk antara molekul-molekul ini dan reseptor kemudian ditentukan secara eksperimental dengan kristalografi sinar-X. Perhitungan komputer terbukti mampu memprediksi struktur dan kekuatan ikatan di kompleks dengan presisi tinggi.

"Ini adalah langkah maju yang solid, dan kami berhasil memprediksi dengan sangat teliti bagaimana keluarga molekul ini mengikat reseptor A2A. Metode perhitungan kami sekarang memiliki terobosan besar dalam desain obat berbasis struktur," kata Hugo Gutierrez-de-Terán , yang memimpin proyek kelompok Uppsala.

Referensi:

Material disediakan oleh Universitas Uppsala. Catatan: Konten dapat diedit untuk gaya dan panjangnya.


You may also like...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.