Solusi Pemanasan Global adalah Tanah (?)

Solusi pemanasan global (global warming) yang cukup menarik ada di bawah kaki Anda: Tanah.

Jika dikelola dengan baik, kemampuan tanah untuk menjebak karbondioksida berpotensi jauh lebih besar daripada perkiraan sebelumnya, menurut periset Stanford.

solusi pemanasan global

Mereka mengklaim bahwa sumber daya tanah tersebut dapat “secara signifikan” mengimbangi peningkatan emisi global.

Baca penelitian menarik lainnya : Energi Terbarukan Masa Depan Berasal dari Laut

Mereka menyerukan pembalikan pemotongan dana oleh federal terhadap program penelitian terkait untuk mempelajari lebih lanjut tentang sumber berharga ini.

Karya tersebut diterbitkan dalam dua studi pada 5 Oktober dalam Annual Review of Ecology, Evolution and Systematics dan Global Change Biology.

Pengelolaan tanah yang baik sebagai solusi pemanasan global

Mereka menekankan perlunya penelitian lebih lanjut tentang bagaimana tanah – jika dikelola dengan baik – dapat mengurangi derasnya arus perubahan iklim.

“Tanah tidak menarik bagi kebanyakan orang,” ujar profesor ilmu pengetahuan sistem bumi, Rob Jackson.

Rob Jackson merupakan penulis utama artikel Annual Review of Ecology, Evolution and Systematics, dan rekan penulis dalam makalah Global Change Biology.

“Tapi ini bukan solusi perubahan iklim dengan keuntungan sampingan yang besar. Membina kesehatan tanah dapat melindungi ketahanan pangan, membangun ketahanan terhadap kekeringan, banjir dan urbanisasi.”

Baca juga : Dampak Perubahan Iklim Terhadap Taman Nasional

Karbon tanah

Bahan organik di dalam tanah, seperti pembusukan tanaman dan residu hewan, menyimpan lebih banyak karbon daripada tanaman dan gabungan atmosfer.

Sayangnya, karbon di dalam tanah telah banyak hilang atau terdegradasi melalui perubahan penggunaan lahan dan praktik hutan serta pertanian yang tidak berkelanjutan, kebakaran, pengendapan nitrogen dan aktivitas manusia lainnya.

Penyebab global warming dari pencairan es

Ancaman jangka panjang terbesar global warming berasal dari pencairan lapisan es di ujung utara Bumi, yang bisa melepaskan sejumlah besar karbon ke atmosfer.

Baca juga : Pencemaran Udara Dapat Dibersihkan dengan Larutan dari Bahan Pakan Ayam

“Terlepas dari risiko ini, ada juga janji besar,” ungkap Jackson dan Jennifer Harden, yang merupakan seorang ilmuwan tamu di School of Earth, Energy & Environmental Sciences, yang merupakan penulis utama makalah Global Change Biology.

Para peneliti menemukan bahwa dengan memperbaiki pengelolaan lahan, dapat meningkatkan penyimpanan karbon tanah yang cukup untuk mengimbangi emisi karbon di masa depan dari pencairan lapisan es.

Pencegahan global warming melalui pengelolaan lahan

Di antara pendekatan sebagai solusi pemanasan global yang mungkin adalah:
1. Mengurangi persiapan lahan
2. Pengumpulan pakan ternak
3. Aplikasi kompos sepanjang tahun

solusi pemanasan global

Menanam lebih banyak tanaman perennial (tahunan/menahun), bukan annual (setahun/semusim), bisa menyimpan lebih banyak karbon dan mengurangi erosi dengan membiarkan akar mencapai lebih dalam ke tanah.

Temuan mengejutkan

Jackson, Harden dan rekannya juga menemukan bahwa sekitar 70 persen dari seluruh karbon yang terperangkap di lapisan teratas tanah, berada di lahan yang terkena dampak langsung oleh pertanian, penggembalaan atau pengelolaan hutan. Jumlah ini sangat mengejutkan bagi para penulis.

Jackson dan rekan penulisnya juga menemukan sejumlah kejutan lain dalam analisis mereka.

Misalnya, kontribusi akar tanaman kadang-kadang lebih besar daripada daun yang berubah menjadi bahan organik tanah untuk massa bahan yang sama.

Penelitian karbon terlengkap

Studi ini juga memberikan perkiraan yang paling lengkap tentang karbon di lahan gambut dan lapisan es, yakni hampir separuh dari perkiraan karbon tanah dunia.

“Mempertahankan dan memulihkan bahan organik tanah membantu petani menanam tanaman yang lebih baik, memurnikan air kita dan menjaga agar atmosfer tetap bersih,” jelas Jackson, Michelle dan Kevin Douglas Provostial Professor di School of Earth, Energy & Environmental Sciences.

Mengatasi rintangan

Studi yang dipimpin Jackson ini menggambarkan sejumlah besar stok potensial karbon secara tak terduga di taiga utara, sebuah ekosistem yang memanas lebih cepat daripada daerah lain. Stok karbon ini masih kurang dipetakan dan kurang dipahami dengan baik.

Studi ini memperingatkan bahaya lain: terlalu melebih-lebihkan bagaimana bahan organik di dalam tanah didistribusikan.

Jackson dan rekan penulisnya menghitung mungkin ada sekitar 25-30 persen kurangnya dari perkiraan saat ini.

Hal ini karena kendala dari bebatuan dasar, suatu faktor yang sebelumnya tidak dianalisis dalam penelitian ilmiah yang dipublikasikan.

Para ilmuwan saat ini memang sudah dapat memetakan dari jarak jauh dan juga memantau perubahan lingkungan di permukaan bumi.

Namun mereka tetap tidak memiliki pemahaman yang kuat tentang interaksi antara proses biologi, kimia dan fisika yang mengatur karbon di dalam tanah.

Pengetahuan ini sangat penting untuk memahami dan memprediksi bagaimana siklus karbon akan merespons perubahan ekosistem, meningkatkan produksi pangan dan menjaga layanan alami yang kita andalkan, seperti penyerbukan tanaman dan penyimpanan air bawah tanah.

Solusi pemanasan global yang sudah mendesak

Iklim yang berubah dengan cepat – dan pengaruhnya terhadap tanah – semakin mendesak kemajuan ilmiah.

“Tanah di bawah kaki kita telah berubah,” ujar Harden.

“Kita tidak dapat menggunakan peta tanah yang dibuat 80 tahun yang lalu dan berharap menemukan jawaban yang sama.”

Jackson, Harden dan rekannya menyerukan dorongan baru untuk mengumpulkan lebih banyak data tentang karbon di dalam tanah dan mempelajari lebih lanjut tentang peran tanah dalam menyerap karbon.

Mereka membayangkan sebuah keterbukaan informasi, jaringan saling berbagi untuk digunakan oleh petani, peternak dan pengelola lahan lainnya.

Selain itu juga dapat digunakan oleh para pembuat kebijakan dan organisasi yang membutuhkan data untuk menginformasikan investasi dan konservasi lahan.

“Jika kita kehilangan momentum untuk penelitian karbon, ini akan menghambat momentum kita untuk memecahkan masalah iklim dan kesinambungan lahan,” kata Harden.

Baca juga : Polusi Udara: Sekarang Diesel Lebih Baik Daripada Bensin

Sumber :

www.annualreviews.org

You may also like...

1 Response

  1. incess says:

    wah elik

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.