Studi mengungkapkan rangsangan yang lebih besar di wilayah otak sosial pria autis dibandingkan dengan wanita – Sains Terkini

Wawasan baru tentang perbedaan otak pria dan wanita dengan autisme telah diterbitkan hari ini di jurnal akses terbuka eLife.

Studi tersebut menunjukkan bahwa pria autis, bukan wanita, telah meningkatkan rangsangan saraf di wilayah otak tertentu yang penting untuk kognisi sosial dan refleksi diri, dan ini dapat memengaruhi kemampuan mereka untuk menavigasi situasi sosial secara berbeda.


Temuan ini mendukung gagasan bahwa ketidakseimbangan antara eksitasi dan penghambatan di otak mempengaruhi beberapa individu dengan autisme lebih dari yang lain. Mereka juga membuka jalan bagi penelitian lebih lanjut untuk mengukur ketidakseimbangan eksitasi dan penghambatan dengan teknik neuroimaging non-invasif. Ini dapat membantu para ilmuwan mengevaluasi bagaimana perawatan yang berbeda dapat mempengaruhi aspek biologi otak ini.

Otak memiliki keseimbangan alaminya sendiri antara eksitasi dan penghambatan, tetapi keseimbangan ini berbeda antar individu. Tingkat eksitasi yang lebih tinggi terkait dengan fungsi beberapa gen yang relevan dengan autisme yang ditemukan pada kromosom seks, dan juga dapat dipengaruhi oleh hormon yang diproduksi dalam jumlah yang lebih tinggi pada pria, seperti testosteron. Perbedaan dalam mekanisme yang berhubungan dengan jenis kelamin ini penting karena autisme memengaruhi laki-laki lebih banyak daripada perempuan.

"Dengan studi ini, kami ingin mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana ketidakseimbangan penghambatan eksitasi dapat memengaruhi pria autis secara berbeda dengan wanita," kata salah satu penulis utama studi tersebut, Stavros Trakoshis, mahasiswa pascasarjana di Laboratory for Autism and Neurodevelopmental Disorders di Istituto Italiano di Tecnologia (IIT) di Rovereto, Italia, dan juga berbasis di Universitas Siprus.

Untuk melakukan ini, Trakoshi dan rekan-rekannya mulai dengan menggunakan model komputer yang mensimulasikan neuron-neuron rangsang dan penghambatan ketika mereka berinteraksi dan saling mempengaruhi dalam otak. Model ini memungkinkan mereka untuk mengontrol rasio campuran antara eksitasi dan penghambatan, mensimulasikan interaksi ini, dan kemudian melaporkan respons populasi neuron dari waktu ke waktu. Outputnya mirip dengan data yang biasanya diukur dengan teknik neuroimaging, seperti electroencephalography (EEG) dan functional magnetic resonance imaging (fMRI).

Trakoshis dan tim mengamati bahwa atribut statistik spesifik dari data simulasi berubah secara sistematis dengan perubahan pada rasio penghambatan eksitasi yang mendasarinya. Perubahan statistik ini juga divalidasi menggunakan data dari pemindaian fMRI otak pada tikus hidup yang diberi obat untuk menginduksi peningkatan eksitasi.

Setelah memvalidasi bahwa fMRI non-invasif dapat mengungkapkan perubahan pada rasio penghambatan eksitasi seluler yang mendasarinya, tim selanjutnya menerapkan teknik mereka pada data fMRI dari pria dan wanita dewasa dengan autisme. Hal ini mengungkapkan bahwa pria autis, bukan wanita, memiliki eksitasi yang meningkat secara atipikal di wilayah otak yang disebut korteks prefrontal medial. Fungsi wilayah otak ini biasanya dikaitkan dengan kognisi sosial dan refleksi diri. Analisis juga menunjukkan bahwa, pada wanita dengan autisme, respons korteks prefrontal medial yang lebih utuh (dengan sedikit peningkatan eksitasi, misalnya) dikaitkan dengan penyamaran yang lebih baik atas kesulitan sosial dalam situasi sosial dunia nyata.


"Pekerjaan kami menunjukkan bahwa mekanisme biologis yang berhubungan dengan seks dapat menjadi bagian integral bagaimana keseimbangan eksitasi-penghambatan berkembang pada pria autis versus wanita," kata penulis senior Michael Lombardo, Direktur Laboratorium untuk Autisme dan Gangguan Perkembangan Saraf di IIT. "Ini bisa membantu menjelaskan mengapa kita melihat fenomena seperti penyamaran yang terwujud secara berbeda pada pria autis versus wanita."

"Pendekatan kami juga dapat berguna untuk memahami kondisi perkembangan saraf lain yang mempengaruhi pria lebih dari wanita, seperti gangguan attention deficit-hyperactivity," Lombardo menyimpulkan.

Referensi:

Bahan disediakan oleh eLife. Catatan: Konten dapat diedit untuk gaya dan panjangnya.

You may also like...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.