Teknologi sensor baru meningkatkan kesejahteraan unggas – Sains Terkini

Tungau ternak yang memberi makan darah dapat dideteksi dengan teknologi sensor yang dapat dikenakan yang dijuluki "Fitbits untuk ayam".

Untuk membantu petani mendeteksi serangan tungau, tim ahli entomologi, ilmuwan komputer, dan ahli biologi yang dipimpin oleh ahli entomologi UC Riverside, Amy Murillo, telah menciptakan sistem deteksi serangga baru. Pekerjaan tim dirinci di jurnal Laporan Ilmiah.

Dalam beberapa tahun terakhir, perhatian terhadap kesejahteraan ternak telah memunculkan lebih banyak peternakan di mana unggas dibiarkan berkeliaran. Meskipun kebebasan ini meningkatkan kualitas hidup ayam, ayam buras masih menjadi sasaran infestasi serangga.

"Tren penjualan telur adalah 'bebas kandang', tapi itu tidak berarti ayam bebas serangga," kata Murillo.

Yang menjadi perhatian khusus para ilmuwan adalah tungau unggas utara, yang menurut Murillo memakan darah ayam dan hidup dari ayam di bulu yang mengelilingi "area pantat ayam."


Selain konsekuensi ekonomi dari ayam yang terinfeksi yang bertelur lebih sedikit, tungau dapat membuat ayam sakit dan menyebabkan lesi pada kulitnya.

"Tungau unggas sangat tidak menyenangkan bagi burung yang sedang diberi makan dan menyebabkan respons kekebalan yang gatal," kata Murillo.

Untuk merancang sistem deteksi mereka, tim Murillo pertama-tama mengidentifikasi tiga hiburan utama ayam yang terkait erat dengan kesejahteraan ayam: mematuk, merapikan bulu, dan membersihkan debu. Tim tersebut berhipotesis bahwa mereka akan melihat peningkatan besar dalam pembersihan bulu dan pembersihan debu di antara ayam yang terinfeksi karena kegiatan ini menjaga kebersihan bulu.

Tim menempatkan sensor gerak ke dalam ransel kecil yang bisa dipakai ayam tanpa rasa tidak nyaman. Tantangan berikutnya adalah menerjemahkan data dari sensor ini ke dalam algoritme yang dapat dideteksi sebagai perilaku.

Alireza Abdoli, seorang mahasiswa doktoral ilmu komputer di UCR, menjelaskan bahwa mengukur perilaku unggas tidak sesederhana menangani perilaku manusia seperti berjalan, karena tidak sesering berjalan.

Untuk melatih komputer mengenali perilaku ayam, Abdoli harus mengambil pendekatan yang tidak biasa. Dia menciptakan algoritme, atau sekumpulan instruksi, untuk komputer yang mempertimbangkan bentuk yang dibuat oleh data sensor ransel pada grafik, serta fitur data seperti mean dan maks.


"Kebanyakan algoritme menggunakan salah satu bentuk atau fitur, tetapi tidak keduanya," kata Abdoli. "Pendekatan kami sangat menarik karena meningkatkan akurasi data dan merupakan kunci untuk membuat keputusan yang baik tentang kesehatan ayam."

Studi perilaku hewan tradisional harus bergantung pada video atau pengamatan visual, yang dapat memakan waktu dan rentan terhadap kesalahan. Murillo melakukan beberapa pengamatan kawanan di awal proyek untuk memastikan kesimpulan komputer tentang perilaku akurat. Setelah mereka yakin, observasi tidak lagi diperlukan, dan komputer dapat mengambil alih.

Pendekatan baru ini tidak hanya meningkatkan keandalan pengamatan para ilmuwan, tetapi juga meningkatkan jumlah hewan dan lamanya waktu mereka dapat dilacak.

Kawanan dalam penelitian ini memang menderita serangan tungau, yang menurut tim terkait dengan peningkatan perilaku pembersihan. Setelah unggas dirawat dan disembuhkan, data menunjukkan pembersihan bulu dan rendaman debu kembali ke tingkat normal.

Jauh lebih dari sekadar gaya pertanian, "Fitbits untuk ayam" ini menawarkan informasi berharga bagi peternak.

“Hasil ini dapat memberi tahu petani bahwa inilah saatnya untuk memeriksa parasit pada burung mereka,” kata Murillo. "Dan alat yang kami kembangkan juga dapat digunakan untuk memeriksa efek dari setiap perubahan pada lingkungan atau pola makan burung."

You may also like...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.