Upaya Pelestarian Hutan Melalui Kearifan Lokal

Upaya pelestarian hutan sebenarnya telah dilakukan oleh masyarakat hukum adat secara turun-temurun dengan kearifan lokal.

Keadaan masyarakat yang sangat bergantung pada alam memunculkan seperangkat pengetahuan tentang ekosistem serta komponen-komponen penyusunnya, seperti hewan, tumbuhan dan jamur.

Dalam pengaplikasian pengetahuan tersebut, mereka juga mengembangkan metode pelestarian alam, termasuk pula larangan-larangan yang dapat menjaga kelestarian alam tersebut. Sanksi-sanksi dibuat guna berjalannya aturan-aturan yang mereka tetapkan (CRITC LIPI, 2005).

Menurut Coto dan Tarumengkeng (1995), pengelolaan hutan secara berkelanjutan adalah proses mengelola hutan untuk mencapai suatu tujuan yang dikaitkan dengan hasil dan jasa hutan secara terus-menerus serta mengurangi dampak lingkungan yang tidak diinginkan.

Baca juga : Kerusakan Hutan Akibat Deforestasi dan Perubahan Iklim

Sirait et al. (2000) menyatakan bahwa pola pengelolaan dan pelestarian hutan yang dilakukan oleh masyarakat hukum adat pada umumnya bersumber pada pengetahuan asli yang ada dan tumbuh dalam masyarakat lengkap dengan segala nilai, norma dan sanksinya.

Pola pengelolaan ini berkembang sangat dinamis, sejalan dengan perkembangan zaman. Pada umumnya hal ini tidak secara tersurat dinyatakan sebagai pengelolaan sumberdaya alam.

Oleh karena itu, perlu pemahaman yang cukup oleh pemerintah daerah tentang pola-pola pengelolaan tersebut untuk dikembangkan.

Baca juga : Perlindungan Kerusakan Hutan Melalui Kearifan Lokal vs Pemerintah

Berbagai praktek pengelolaan dan pelestarian hutan banyak dilakukan oleh masyarakat adat di Indonesia dengan berbagai istilah.

Misalnya, mamar di Nusa Tenggara Timur, lembo pada masyarakat Dayak di Kalimantan Timur, tembawang pada masyarakat Dayak di Kalimantan Barat, repong pada Masyarakat Peminggir di Lampung, dan tombak pada masyarakat Batak di Tapanuli Utara.

Berikut salah satu contoh kearifan lokal masyarakat Suku Anak Dalam di Jambi, yaitu Kayu Ditajom Diseliligi. Pohon ini tidak boleh diganggu, baik ditebang maupun sekedar dilukai batangnya. Untuk lebih lengkapnya, nanti akan kita bahas pada artikel selanjutnya.

pelestarian hutan

Praktek tersebut menunjukan bahwa masyarakat adat telah dan mampu mengelola sumberdaya alam termasuk hutannya secara turun-temurun.

Pola-pola ini diketahui memiliki bentuk pengaplikasian yang sangat beragam dan dinamis sehingga menghasilkan berbagai manfaat bagi masyarakat dan lingkungan (Suhardjito et al., 1999).

Baca juga : Hutan Tua Melindungi Burung Dalam Pemanasan Iklim

Rasionalitas nilai dalam masyarakat tradisional yang masih mempertimbangkan mitos dan metafisika dalam membentuk nilai-nilai pelestarian lingkungan adalah masuk akal.

Sebagai contoh adalah wilayah larangan, tumbuhan dan hewan keramat. Wilayah larangan, tumbuhan dan hewan keramat ini biasanya riskan terhadap eksploitasi. Keriskanan dapat disebabkan oleh jumlah yang sudah terbatas. Masyarakat mempercayai bahwa akibat buruk akan mereka terima jika mengeksploitasi wilayah, tumbuhan atau hewan tersebut (CRITC LIPI, 2005).

Baca juga : Masalah dalam Pengelolaan dan Pelestarian Lingkungan Hidup

Sumber :

Coto, Z. dan Tarumengkeng, R.C. 1995. Enhancing Sustainable Management in lndonesia. ITTO year 2000 Objective Indonesian Forestry Community.

CRITC LIPI, 2005. Kajian Kearifan Lokal masyarakat Desa Sabang Mawang, Sededap dan Pulau Tiga Kecamatan Bunguran Barat Kabupaten Natuna Propinsi Kepulauan Riau. University of Riau: Research and Development Center of Aquatic and Environtmental Resource Management

Sirait, M., Fay, C. dan Kusworo, A., 2000, Bagaimana Hak-hak Masyarakat Hukum Adat dalam Mengelola Sumber Daya Alam Diatur. Southeast Asia Policy Research Working Paper, No. 24, Bogor : ICRAF SE-Asia. Paper dibawakan dalam Roundtable Discussion di Wisma PKBI tanggal 20 Oktober 1999 dan diseminarkan pada acara Seminar Perencanaan Tata Ruang Secara Partisipatif oleh WATALA dan BAPPEDA Propinsi Lampung, 11 Oktober 2000, Bandar Lampung.

Suhardjito, D., Khan, A., Djatmiko, W., Sirait, M. dan Evelyna, S. 1999. Karakteristik Pengelolaan Hutan Berbasiskan Masyarakat. Studi Kolaboratif FKKM-1999.

You may also like...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.